MENGARANG DENGAN ILHAM

Melihat, mengalami, merasakan dan membaca.
Menjadi SASTRAWAN

Kamis, 10 Mei 2012

PENELITIAN DAN PERUMUSAN MASALAH DALAM PENELITIAN


 
A.    APA-APA SAJAKAH YANG DAPAT DILAKUKAN PENELITIAN
Penelitiian sebagai suatu pendekatan ilmiah dalam menemukan kebenaran, menjawab, dan memecahkan permasalahan memiliki langkah-langkah tertentu. Sukmanidata (2005) mengidentifikasi langakah-langkah penelitian sebagai berikut:[1]
1.      Mengidentifikasi masalah
2.      Merumuskan dan membatasi masalah
3.      Melakukan studi kepustakaan
4.      Merumuskan hipotesis dan pertanyaan penelitian
5.      Menentukan desain dan metode penelitian
6.      Menyusun instrument dan mengumpulkan data
7.      Menganalisis data dan menyajikan hasil
8.      Menginterpresentasikan temuan, membuat kesimpulan dan rekomendasi.
Arikunto (1993) mengemukakan prosedur penelitian sebagai berikut:[2]
1)      Memilih masalah
2)      Studi pendahuluan
3)      Merumuskan masalah
4)      Merumuskan anggapan dasar dasar (asumsi)
5)      Hipotesis
6)      Memilih pendekatan
7)      Menentukan variable dan sumber data
8)      Menentukan dan menyusun instrument
9)      Analisis data
10)  Menarik kesimpulan
11)  Menyusunlaporan.
Penelitian yang ilmiah adalah menggunakan metode dan prinsip prinsip science yaitu dengan metode yang sistematis, eksak (menggunakan metode penelitian dimana suatu hipotes yang dirumuskan setelah dikumpulkan data obyektif secara sistematis), dan dapat dites secara empiris.masalah yang dapat diteliti sebenarnya tidak terbatas jumlahnya.
Masalah yang dapat diteliti sebenarnya tidak terbatas  jumlahnya. Namun seorang calon peneliti sering menemukan satu masalah yang cocok baginya. Memang ada kesulitan dalam menemukan topic yang tepat itu.[3] Menurut Prof. Dr.S. Nasution, M.A ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
a.      Mencari Masalah
Masalah dapat dipilih berdasarkan pertimbangan pribadi dan praktis, misalnya:
1)      Apakah masalah itu sesuatu yang baru, menarik serta menimbulkan rasa ingin tahu para calon peneliti tersebut?
2)      Apakah masalah itu sesuai dengan jurusan, kemampuan, dan latar belakang pendidikannya?
3)      Apakah masalah menemukan alat-alat khusus dan kondisi kerja yang dapat dipenuhi oleh calon?
4)      Apakah dengan metode tertentu dapat dapat dikumpulkan data yang diperlukan.
5)      Apakah calon peneliti dapat menanggung segala pembiayaannya?
6)      Apakah masalah itu dapat diselesaikan oleh sipeneliti dalam kurun waktu yang tersedia?
Hal-hal tersebut harus dipertimbangkan oleh sipeneliti, akan tetapi ada criteria yang bersifat ilmiah yang perlu dperhatikan, yang mensyaratkan agar masalah penelitian itu member sumbangan untuk perkembangan pengetahuan. Masalah tidak sama dengan dengan topic suatu skripsi, tesis dan disertasi.  Masalah memang telah tercakup dalam tercakup dalam judul, namun masih perlu diuraikan dan diperjelas. Dari topic kita belum tentu dapat memahami dan mengetahui  apa masalah yang sesungguhnya, oleh sebab itu perlu kita uraikan lebih lanjut mengenai masalh itu.
b.      Merumuskan Masalah
Tiap penelitian harus mempunyai tujuan yang akan dicapai, tujuan itu erat kaitannya dengan masalah yang dipilih serta analisis masalah itu. Ada kemungkinan terdapat tujuan utama dan tujuan sekunder. Banyaknya tujuan akan mengakibatkan banyaknya waktu., tenaga, dan biaya yang harus dikeluarkan.  Akan tetapi mungkin juga adanya satu tujuan saja, yang diteliti secara luas dan mendalam, yang  lebih banyak memerlukan waktu dan tenaga dari pada mempunyai sejumlah besar tujuan kecil-kecil. Oleh karena itu sipeneliti harus merumuskan masalah yang akan ditelitinya dengan jelas dan berusaha untuk merumuskannya secara spesifik. Misalnya: masalah  “pengaruh metode mengajar dengan sikap peserta didik” contoh masalah ini masih terlalu umum dan masih samar- samar.masalah itu akan lebih jelas bila misalnya dirumuskan seperti: “pengaruh metode mengajar dengan modul terhadap sikap kerja sama antara peserta didik”. 
c.       Kesalahan dalam perumusan masalah
Dalam perumusan masalah sering terdapat kesalahan sebagai berikut:
1.      Masalah terlalu luas
2.      Masalah tersebut terlalu sempit
3.      Masalah mengandung emosi, prasangka, atau unsure-unsur yang tidak ilmiah.

d.      Pengolahan masalah
Berkenaan dengan masalah yang telah dipilih oleh sipeneliti perlu adanya pemikiran lebih lanjut, yaitu diantaranya:
1)      Analisis masalah
2)      Pembatasan masalah
3)      Kedudukan masalah
4)      Corak penelitian
5)      Asumsi-asumsi
6)      Pentingnya penelitian
7)      Istilah-istilah

B. MASALAH  DALAM PENELITIAN DAN PERUMUSAN MASALAH
Masalah merupakan terjemahan dari problem, masalah adalah sesuatu yang mengandung pertanyaan, dan perlu dicarikan jawabannya . Proses mencari jawaban dari permasalahan bisa dilakukan melalui proses penelitian. Dengan demikian suatu permasalahan muncul sebelum kegiatan proses penelitian itu dilakukan. Sedangkan masalah atau permasalahan dalam penelitan erat kaitanya dengan kehidupan sehari-hari dan sesuatu yang lumrah terjadi. Namun demikian perlu adanya pemecahan terhadap masalah atau permasalahan tersebut.
Setelah masalah dipilih. Maka perlu dirumuskan. Perumusan masalah itu penting, karena akan jadi penuntun lankah-langkah selanjutnya. Untuk dapat merumuskan masalah peneliti harus menguasai teori, banyak membaca dan memiliki daya observasi yang jeli. Perlu diketahui bahwa memilih masalah dan merumuskanya tidak gampang, memerlukan pengalaman dan pengetahuan dalam masalah itu sendiri.
Dalam merumuskan masalah dapat diperhatikan adanya beberapa syarat dengan mempertimbangkan kemampuan peneliti, daya nalar serta cocok dengan bidang kemampuanya. Syarat yang dimaksud yaitu:
1. Masalah hendaklah dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya
2. Rumusan hendaklah jelas dan padat
3.Rumusan hendaklah memberikan petunjuk tentang mungkinya    mengumpulkan data guna menjawab pertanyaan yang terkandung  dalam rumusan itu.

Dalam memilih masalah atau permasalan penelitian akan lebih mudah jika peneliti memahami dan mengikuti secara organisatoris, langkah-langkah penting di antaranya adalah sebagai berikut:[4]
1.      Peneliti sebaiknya mengidentifikasi cakupan luas dari permasalahan tersebut, kemudian dispesifikasikan untuk mencari apakakh permasalahan tersebut sering kali muncul dan dapat dinilai secara kasar kemanfaatannya baik terhadap perkembangan ilmu pengetahuan maupun terhadap stakeholder hasil penelitian.
2.      Peneliti mempersempit permasalahan sehingga menjadi permasalahn yang dapat diteliti, sesuai dengan kemampuan peneliti untuk melaksanakannya,, di samping menghindari adanya kesulitan nantinya dalam mengukur data.
3.      Masalah penelitian yang telah diidentifikasi dan dibatasai agar memperoleh masalah yang layak untuk diteliti masih harus dirumuskan agar dapat memberikan arah bagi peneliti secara jelas.
4.      Masalah yang telah dirumuskan secara tepat dan benar harus mencakup dan menunjukkan semua variabel maupun hubungan variabel yang satu dengan yang lainnya yang hendak diteliti.
Selanjutnya mengenal bentuk perumusan masalah yang dirumuskan ada beberapa jenis/bentuk, di antaranya:
1.      Perumusan masalah menunjukkan rumusan yang jelas, tidak menduakan arti.
2.      Pernyataan sebaiknya dinyatakan dalam bentuk pertanyaan.
3.      Perumusan masalah penelitian dapat bervariasi, tergantung pada kesenangan peneliti.
4.      Perlu adanya kehati-hatian, jeli, dalam mengevaluasi rumusan masalah penelitian (Sukardi, 2004)
5.      Permasalahan haruslah secara tepat dinyatakan agar memungkiinkan peneliti untuk memilih fakta yang diperlukan dalam penyelesaian masalah penelitian.
6.      Permasalah itu mesti dapat dijawab dengan jelas berapapun jumlah jawaban yang diberikan harus memenuhi persyaratan.
7.      Setiap jawaban dari permasalahan penelitian harus dapat diuji dan dibuktikan oleh  orang lain (Suriasumantri, 1978).
Di samping perumusan masalah penelitian harus jelas juga memiliki kegunaan dan fungsi yang bisa di iteliti, maka pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan oleh peneliti dalam penelitian tidak akan berhasil masuk ke dalam berbagai aspek yang berkedudukan kunci dalam permasalahan yang diteliti (Wignjosoebroto S, 1979). Karena itu permasalahan yang dapat diteliti memiliki kriteria sebagai berikut:
1.      Masalah itu memiliki skope yang terbatas, spesifik dan terdiri dari konsep-konsep yang jelas.
2.      Masalah yang diteliti itu memiliki rujukan empiris.
3.      Masalah itu sendiri memungkinkan untuk diteliti. (Emmi Y., 1979)
Dengan kriteria yang diungkapkan tersebut menunjukan bahwa masalah atau permasalahan tersebut memiliki syarat untuk diteliti, karena dalam penelitian ilmiah yyang bersifat empiris hanya terbatas pada penggunaan masalah yang memiliki syarat sebagai terungkap di atas.



C.  SISTEM PENENTUAN MASALAH DALAM PENELITIAN
Masalah penelitian merupakan suatu pondasi dalam melakukan suatu penelitian. Singkatnya, masalah penelitian adalah adanya gap atau kesenjangan antara harapan dengan kenyataan, teori dengan praktek, yang seharusnya dengan yang terjadi. Masalah penelitian bukan merupakan suatu rumusan tujuan. Ketika ditanya apa masalah penelitianmu? Beberapa menjawab: ”Ingin mengetahui…” dan itu adalah rumusan tujuan, bukan suatu masalah penelitian.
Menentukan masalah penelitian bukanlah suatu hal yang mudah. Oleh karena itu untuk menentukan masalah penelitian, perlu mengetahui dulu apa masalahnya. Sebagian besar pemecahan masalah tergantung pada pengetahuan peneliti tentang masalah tersebut. Sebagian lain ditentukan oleh pengetahuan peneliti tentang sifat dan hakekat masalah tersebut. Dengan kata lain, masalah adalah sebuah kalimat Tanya atau kalimat pertanyaan.
Masalah penelitian akan menentukan keberhasilan dari suatu penelitian. Ada seorang pakar penelitian yang menyatakan bahwa ”Ketika seorang peneliti sudah berhasil memformulasikan (baca: ”menemukan”) masalah penelitian, maka sebenarnya 50% penelitian tersebut sudah berjalan”. Begitu juga sebaliknya, ketika masalah penelitian itu belum ditemukan, maka penelitian itu selamanya tidak akan berjalan.
Banyak peneliti menemukan kesulitan dalam menentukan permasalahan penelitian sehingga menghambat perkembangan kegiatan penelitian yang akan dilakukan. Pada umumnya keadaan berikut ini bisa menjadi penuntun  mewujudkan permasalahan:
(1)    Bila ada informasi yang mengakibatkan munculnya kesenjangan dalam    pengetahuan kita.
(2)   Bila ada hasil-hasil penelitian atau kajian yang bertentangan.
(3) Bila ada suatu kenyataan dan kita bermaksud menjelaskan melaluipenelitian.

Peneliti pemula seringkali mengalami kesulitan menentukan permasalahan yang baik. Berikut ini dikemukakan beberapa karakteristik permasalahan yang baik (tepat) dijadikan permasalahan penelitian sebagai berikut:
a. Topik atau judul yang dipilih adalah sangat menarik.
b. Pemecahan permasalahan harus bermanfaat bagi orang yang berkepentingan dalam bidang tertentu.
c. Permasalahan yang dipilih merupakan sesuatu yang baru.
d. Mengundang rancangan yang lebih kompleks.
e. Dapat diselesaikan sesuai waktu yang diinginkan.
f. Tidak bertentangan dengan moral.
Peneliti perlu berlatih agar terampil mengidentifikasi permasalahan. Kegiatan berikut ini membantu peneliti untuk mengidentifikasi permasalahan.
(1)  Membaca sebanyak-banyaknya literatur yang berhubungan dengan bidang permasalahan yang akan diteliti dan bersikap kritis terhadap apa yang dibacanya;
(2)  Menghadiri kuliah atau ceramah-ceramah profesional;
(3)  Melakukan pengamatan pengamatan terhadap situasi atau kejadian-kejadian di lingkungan profesinya;
(4)  Memikirkan kemungkinan ditemukannya permasalahan-permasalahan  dari materi kuliah;
(5)  Melakukan penelitian-penelitian kecil dan mencatat hasil atau temuan yang diperoleh;
(6)  Menghadiri seminar-seminar hasil penelitian;
(7)   Mengungjungi berbagai perpustakaan untuk mencari topik yang dapat diteliti;
(8) Berlangganan jurnal atau majalah yang berhubungan dengan bidang permasalahan yang akan diteliti; dan
(9)  Mengumpulkan bahan-bahan yang berhubungan bidang permasalahan yang akan diteliti.
Dalam sebuah penelitian, menentukan masalah penelitian merupakan suatu hal yang penting, karena sebuah penelitian akan dilakukan apabila sudah diketahui masalahnya. Artinyaa, masalah menuntun peneliti melakukan penelitian. Oleh karena tujuan  dari pemilihan dan menentukan masalah penelitian adalah untuk :
1.      Mencari sesuatu dalam rangka pemuasan akademik seseorang
2.      Merumuskan perhatian dan keinginan seseorang akan hal-hal yang baru
3.      Meletakkan dasar untuk memecahkan penemuan-penemuan sebelumnya atau dasar untuk peneliti selanjutnya
4.      Memenuhi  keinginan sosial; dan
5.      Menyediakan sesuatu yang bermanfaat.
Kriteria atau ciri dalam memilih dan menentukan masalah penelitian adalah
1. Masalah yang dipilih harus dirumuskan dengan cara tertentu yang menyiratkan adanya kemungkinan pengujian empiris suatu masalah yang tidak memuat implikasi pengujian hubungan atau hubungan—hubungan yang dinyatakannya.
2. Masalah yang dipilih harus harus mempunyai nilai penelitian : (a). mempunyai keaslian, (b). merupakan hal yang penting, (c). dapat diuji, (d). mengungkapkan suatu hubunngan antara 2 atau lebih variabel, dan (e). jelas dan tidak ambigu dalam bentuk kalimat pertanyaan.
3.  Masalah yang dipilih harus fleksibel yakni masalah tersebut dapat dipecahkan. Artinya bahwa : (a). data dan metode untuk  memecahkan masalah harus tersedia, (b). biaya untuk memecahkan masalah relative harus dalam batas-batas kemampuan, (c). waktu untuk memecahkan masalah harus wajar, (d). biaya dan hasil harus seimbang, (e). administrasi dan sponsor harus kuat, dan (f). tidak bertentangan dengan hukum dan adat.
4.  Masalah yang dipilih harus sesuai dengan klasifikasi peneliti, paling tidak masalah yang dipilih sekurang-kurangnya : (a). menarik bagi si peneliti ; dan (b). cocok dengan kualifikasi ilmiah si peneliti.
Kemudian, yang menjadi kendala untuk memperoleh masalah adalah kesanggupan peneliti menggali dan mengidentifikasi masalah seta mengetahui sumber-sumber dari masalah tersebut. Masalah penelitian dapat diperoleh anatar lain dengan melakukan :
1.      Pengamatan terhadap kegiatan manusia
2.      Bacaan-bacaan
3.      Analisa bidang pengetahuan
4.      Ulangan dan perluasan penelitian
5.      Cabang studi yang sedang dikembangkan
6.      Pengetahuan dan catatan pribadi, praktek, dan keinginan masyarakat
7.      Bidang spesialisasi pelajaran yang diikuti
8.      Pengamatan terhadap alam sekeliling, dan
9.      Diskusi-diskusi ilmiah
Dalam menentukan masalah penelitian maka kita tidak akan terlepas di dalamnya dari berbagai permasalahan di dalamnya diantaranya yaitu latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, dan perumusan masalah.[5]

D. PENELITIAN LIBRARY RESEARCH DAN FIELD RESEARCH
1. Penelitian kepustakaan (library research)
 Penelitian kepustakaan (library research) atau sering disebut penelitian kualitatif; penelitian terhadap sejumlah referensi tertulis, baik buku, dokumen, manuskrip, dan lain sebagainya. Penelitiannya diarahkan untuk meneliti tentang kebenaran suatu teori, dina-mika sosial suatu peradaban pada masa tertentu, atau pemikiran seseorang; baik yang di-tuangkannya sendiri atau oleh orang lain dalam sebuah karya atau sumber tertulis lainnya.
Dalam sejarah peradaban Islam, penelitian jenis ini telah berkembang sejak awal, terutama tatkala terjadi persentuhan kebudayaan Islam dengan peradaban Yunani, Persia, dan Romawi. Penelitian jenis ini berkembang dengan pesat dan menyentuh berbagai disiplin ilmu; seperti kalam, fiqh, hadis, tafsir, dan lain sebagainya. Jenis penelitian ini telah dilakukan oleh sejumlah intelektual muslim, sehingga –tanpa mengenyampingkan penelitian lapangan– kemudian mereka mampu melahirkan suatu peradaban Islam yang demikian tinggi.

2. Penelitian lapangan (field research)
Penelitian lapangan (field research) atau sering disebut penelitian kuantitatif; penelitian terhadap gejala sosial, pemahaman keagamaan, interaksi sosial, dan prilaku manusia dalam sebuah komunitas. Pendekatan penelitian kuantitatif menggunakan pola berfikir terukur secara matematis, mengakomodasi deskripsi verbal (gejala) kepada angka-angka yang kemudian diselesaikan dengan bantuan statistik. Pola ini diakui lebih mendominasi penelitian sejak abad 18 sampai sekarang, terutama sejak ditemukannya media komputer yang mampu mempercepat proses pengolahan data secara statistik.
Mengacu pada pembagian sumber penelitian di atas, terlihat jelas bahwa masing-masing pendekatan penelitian memiliki kelebihan-kekurangan, tergantung dengan bentuk persoalan yang akan diteliti dan kemampuan individu seorang peneliti dalam mengolah data. Oleh karenanya, tidak ada bentuk sumber penelitian yang lebih mendominasi, baik kuantitatif terhadap kualitatif atau sebaliknya, sebagaimana selama ini telah terjadi kekeliruan asumsi yang berkembang di kalangan peneliti yang menganggap penelitian kuantitatif lebih ideal di banding dengan penelitian kualitatif, demikian pula sebaliknya.
Secara operasional bukan berarti penelitian ini tidak memerlukan referensi tertulis. Sebab, dalam melakukan analisa terhadap dinamika sosial dalam sebuah komunitas, seorang peneliti memerlukan landasan teori yang dijadikan sebagai parameter analisa terhadap penelitian yang dilakukannya.
Dalam melakukan penelitian field research, seringkali terjadi kekeliruan dengan memasukkan library research sebagai salah satu metodologi penelitiannya. Padahal kedua jenis tersebut memiliki perbedaan yang cukup jelas. Sepertinya, asumsi yang digunakan karena dalam melakukan penelitian lapangan, peneliti juga mengutip teori tertulis (library).
Kekeliruan tersebut seyognya tidak terjadi. Jika peneliti telah memilih jenis penelitiannya apakah field research, maka meskipun ia mengutip teori tertulis (library), si peneliti tidak perlu memasukkan library research sebagai metodologi penelitiannya. Hal ini disebabkan karena bukan berarti tatkala peneliti telah menetapkan jenis penelitiannya field research, maka seorang peneliti tidak boleh mengambil teori tertulis (library).
Bila dilihat dari segi hasil akhir, penelitian ilmiah dapat dibagi kepada 2 (dua) bentuk, yaitu :
a. Pure research; penelitian murni untuk menelaah kebenaran suatu teori yang ditujukan bagi pengembangan teori ilmu pengetahuan.
b. Applied research; penelitian yang ditujukan untuk pengembangan teori ilmu yang langsung (praktis) dapat digunakan dalam menata peradaban umat manusia.
Ditinjau dari segi sumber data penelitian, penelitian kualitatif seringkali disebut sebagai jenis penelitian kepustakaan (library research). Penelitian ini memfokuskan objek kajiannya berupa sumber-sumber teoretis (normatif) yang bersifat tertulis (buku, dokumen, manuskrip, dan lain sebagainya). Pengolahan data penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan filsafat. Di antara pendekatan filosofis yang dapat digunakan dalam penelitian kualitatif adalah positivistik, rasionalistik, phenomenologis, dan lain sebagainya.

Adapun fungsi teknik penelitian ilmiah, pada dasarnya dapat dilihat dari 2 (dua) sisi, yaitu :
1. Untuk memberikan pedoman yang sistematis bagi peneliti dalam memformat rencana penelitian dan melakukan penelitian.
2.  Untuk memberikan pedoman bagi pembaca dalam melakukan pelacakan dan memahami sebuah hasil penelitian secara sistamatis.[6]

E. PENELITIAN KETOKOHAN DALAM KAJIAN PENELITIAN
Studi tokoh merupakan salah satu jenis penelitian kualitatif yang berkembang sejak era 1980’an. Tujuannya untuk mencapai suatu pemahaman tentang ketokohan seseorang individu dalam komunitas tertentu dan dalam bidang tertentu, mengungkap pandangan, motivasi, sejarah hidup, dan ambisinya selaku individu melalui pengakuannya. Sebagai jenis penelitian kualitatif, studi tokoh juga menggunakan metode sebagaimana lazimnya dalam penelitian kualitatif, yakni wawancara, observasi, dokumentasi, dan catatan-catatan perjalanan hidup sang tokoh.
Sebenarnya sebagai varian metode dan jenis penelitian kualitatif, studi tokoh sangat baik untuk menggali pikiran dan pandangan seorang tokoh dalam bidangnya. Sayang masih sering terjadi kesalahan dalam pelaksanaanya. Kesalahan umum yang sering terjadi, khususnya bagi peneliti pemula, adalah mencari tokohnya dulu. Padahal, yang seharusnya dilakukan lebih dulu oleh peneliti adalah menentukan bidang keilmuan lebih dulu. Setelah itu diidentifikasi siapa saja tokoh yang ada di bidang itu untuk selanjutnya dipilih siapa di antara tokoh tersebut yang paling menonjol. Ukuran ketokohan seseorang adalah banyaknya karya ilmiah yang dihasilkan, pandangan masyarakat secara umum dengan menghimpun informasi sebanyak-banyaknya tentang tokoh tersebut dari berbagai sumber. Setelah data terkumpul, dikaji kelebihan dan kekurangan para tokoh untuk selanjutnya ditentukan yang paling sedikit kekurangannya dan paling banyak kelebihannya. Itulah tokoh yang  dipilih.
Karena itu,  secara berurutan langkah-langkah metodologisnya sebagai berikut:
1.         Menentukan bidang kajian yang menjadi minat peneliti,
2.         Bidang yang dipilih merupakan bidang yang paling dikuasai peneliti
3.         Membuat daftar siapa saja tokoh atau ilmuwan yang dipandang sebagai ahli di bidang yang akan dikaji
4.         Dari sekian banyak tokoh itu dibuat peringkat ketokohannya berdasarkan karya yang ditulis, pandangan orang dan masyarakat luas tentang tokoh tersebut, dan tentu expert judgement peneliti sendiri.
5.         Dibuat daftar kelebihan dan kekurangan masing-masing tokoh dalam bidang yang akan dikaji
6.         Setelah itu ditentukan tokoh yang dipilih untuk dikaji
7.         Untuk menambah wawasan tentang tokoh dimaksud, peneliti melakukan kajian terdahulu tentang siapa saja yang pernah meneliti tokoh tersebut untuk memperoleh state of the arts.
8.         Memulai Studi dengan mengumpulkan data.
Terkait sistematika laporan studi tokoh memang tidak ada pola yang baku. Tetapi setidaknya model berikut (diadopsi dari Furchan dan Maimun, 2005: 90-91) bisa dipakai sebagai panduan.
1. Pendahuluan
a. Konteks Studi
b. Fokus Studi
c. Tujuan Studi
d. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Studi

  Manfaat Studi, yang meliputi:
a). Manfaat teoretik
b)  Manfaat Praktik
c). Manfaat Institusional

Metode Studi, meliputi :
a). Metode Perolehan Data
b). Metode Keabsahan Data
c). Metode Analisis Data

 2.  Riwayat Hidup Tokoh
a. Identitas diri
b. Riwayat Pendidikan
c. Sejarah Sosial
d. Aktivitas Terkait Bidang yang Dikaji
e. Peran Sosial dan Akademik
f. Karya yang Pernah Dihasilkan

 3. Paparan Data Studi
a. Paparan Berdasarkan Fokus Studi Pertama
b. Paparan Berdasarkan Fokus Studi Kedua, dan seterusnya

4. Pembahasan Studi
a. Pembahasan Fokus Studi Pertama
b. Pembahasan Fokus Studi Kedua, dan seterusnya

 5. Simpulan dan Saran
a. Jawaban atas Fokus Studi, yang meliputi:
a). Jawaban Substantif, yakni jawaban atas fokus masalah berdasarkan data
b). Jawaban Formal, yakni jawaban substantif yang sudah diabstraksikan    sehingga menjadi konsep.
b. Saran (kepada sang tokoh dan peneliti lebih lanjut).[7]



[1] Moh. Ainin, Metodologi penelitian Bahasa Arab (Hilal, Semarang: 2011 ), h.18
[2] Ibid
[3] S. Nasution Metode Reseach (Ikrar Mandiri Abadi, Jakarta: 2006)  h. 16-22
[4] M. Djunaidi Ghoni dan Fauzan Almanshur, Metodologi Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, ( UIN-Malang Press: Malang, 2009) h. 52-54
[5] http//:Metodologi penelitian/Menentukan Masalah Penelitian « Muhamad Mujahidin Blog.htm
[6] http://www.kosmaext2010.com/penelitian-ilmiah-kepustakaan-vs-lapangan.php
[7] http://mudjiarahardjo.com/materi-kuliah/218-sekilas-tentang-studi-tokoh-dalam-penelitian-.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar