MENGARANG DENGAN ILHAM

Melihat, mengalami, merasakan dan membaca.
Menjadi SASTRAWAN
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Mei 2012

CERPEN MELUKIS DI AWAN

Oleh : Methia Farina


Tak dapat kujangkau diatas sana, tanganku tak sampai memegang bola api yang besar itu. Hanya kemauan dan kegigihan yang membuatku bertahan dititik kelemahanku. Rasa putus asa hampir saja hinggap di benakku, langsung kuelakkan  pikiran yang menggoyahkanku.
“Karti…! Tolong Bantu ibu Nak…!”
 (Terdengar suara ibu dibalik pintu yang rapuh, serbuk-serbuk kayunya mulai habis)
Lamunan Karti buyar dari impiannya.
“Iya Bu…!”
 Kubuka pintu yang tampak reyot.
Hatiku iba melihat ibu pulang dari sawah menjunjung pelepah kelapa untuk dijadikan bahan bakar. Kehidupan kami sehari-hari hanya apa adanya, jika hari ini tidak ada beras, aku disuruh ibu untuk meminjam kepada kakek. Jarak antara rumah kami dengan rumah kakek tidak terlalu jauh cuma 1 km. Kami tidak pernah makan dengan makanan yang enak, jangankan makan sambal ayam, uang untuk beli cabe saja keluarga kami tidak mampu. Jika tidak ada sambal, hanya garamlah yang menemani kami makan.
Apakah cita-citaku pupus ditengah ekonomi keluargaku tidak memadai. Aku bisa sampai sekolah sekarang ini hanya berkat kemampuanku. Aku mendapat beasiswa sampai MAN sekarang ini.
Apakah aku bisa melukis tanpa kanvas. Kata orang, kamu tidak akan bisa melukis tanpa bahan pokoknya. Aku tersandarkan diri mengingat perkataan tetanggaku. Mungkin karena aku adalah hanya seorang anak tani, yang hanya menompang di sawah orang. Tapi aku bangga kepada ibu, meski ayah telah tiada, ibu tetap semangat, demi menghidupi aku anak semata wayangnya. Hampa pandanganku, melihat mata ibu yang memerah, terik cahaya matahari telah membakar bola matanya yang bening, aku ingin melindungi ibu, perihku di dalam hati.
Cita-cita yang begitu mulia, aku ingin menuntut ilmu ke Madinah, menggali ilmu, membuang jauh-jauh kebodohan. Madinah tempat kelahiran Nabi Muhammad saw. Aku masih ingat ketika ayah masih berada dipelupuk mataku, ayah sering bercerita tentang kehidupan Rasulullah saw. Aku terpana mendengar cerita ayah, Rasulullah telah menjadi yatim piatu ketika berusia 6 tahun, jika aku mengingat semua yang diceritakan ayah. Air mataku mengalir seperti derasnya air hujan yang turun. Aku juga merasakan seperti kehidupan Rasulullah, aku ditinggal oleh ayah disaat aku benar-benar membutuhkan sosok seorang ayah.
***

Walaupun aku tidak bisa melanjutkan studiku ke luar negeri, namun aku sangat bersyukur masih bisa merasakan dunia perkuliahan di IAIN Imam Bonjol Padang. Aku terus melacak situs tentang Universitas Islam Madinah (UIM) di internet, kutelusuri beasiswa disana, ternyata yang kuliah dan bisa dapat beasiswa hanya untuk ikhwan, yang untuk akhwat hanya di Ummul Qura Mekah dan Universitas al-Azhar di Mesir. Harapanku tak berhenti disini aku terus mencari informasi.
  Menulis adalah salah satu jalanku untuk mencari nafkah, selain itu menulis bagiku juga menyebarkan pencerahan. Awalnya aku tidak tertarik dengan dunia tulis menulis. Inspirasi dan keinginan muncul ketika seorang sahabat mengatakan aku berbakat untuk menulis. Sampai saat ini aku menulis diriku, menulis jalan hidupku, menulis alam dari hasil membaca alam, dan aku mencoba menulis mimpiku.
Tiada kakak tiada adik yang memberiku motivasi, sungguh berat kujalankan hidup ini dengan sendirinya. Kesendirian adalah anugerah yang diberikan Tuhan untukku. Aku tidak pernah berkeluh kesah dengan keadaanku. Aku selalu bersyukur terhadap apa yang aku punya. Dibalik kesabaranku Tuhan memberikanku seorang sahabat yang mendukungku untuk menulis, memberi inspirasi dan semangat. Aku tidak pernah meminta kepada Tuhan untuk diberikan seorang sahabat, namun aku hanya berharap memiliki sahabat yang memberiku inspirasi untuk bangkit. Nama sahabat itu adalah Asyraf.
Semua telah di tempatkan Tuhan di tempatnya masing-masing, fikirku, mungkin inilah jalanku.
Nilaiku diperkuliahan tak pernah di bawah 3,5. Aku lulus dengan mendapatkan nilai comloud. Nilaiku cukup membuat hati ibuku senang. Halal dan baik adalah moto hidupku. Aku juga mahir dalam menerjemahkan Bahasa Arab, didukung dari jurusanku yaitu Pendidikan Bahasa Arab. Aku diminta  oleh salah satu badan  pemerintah untuk menerjemahkan Bahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia. Aku mengabdikan diri selalma 6 bulan di sana.
Aku merasa perih belum bisa melanjutkakn studiku ke Haramain, dua tempat yang selama ini aku impikan. Karena dua persyaratan belum bisa aku penuhi yaitu masalah finansial dan muhrimku. Begitulah ilmu itu sangat mahal sekali. Aku hampir putus asa, uang yang aku kumpulkan selama enam bulan belum cukup untuk ke sana.

***
Tit…tit…
Tit…tit…
(Bunyi klakson kendaraan pos)
Aku segera keluar dari kosku.
“ Assalamu’alaikum…maaf  pak tadi saya sedang memasak di dapur.”
“ Wa’alaikumussalam, tidak apa-apa Karti..”
“ Oh ya pak! Ada surat dari ibu ?”
“ Ibumu belum mengirimkan surat, ini ada dua buah surat untukmu.”
“ Mm…terima kasih Pak!”
“ Sama-sama Karti, bapak pergi dulu, Assalamu’alaikum.
“ Wa’alaikumussalam…”
Hmm surat dari siapa ya, perasaan aku tidak pernah mendapat dua buah surat bersamaan. Kubuka dulu, Bismillahirrahmaanirrahiim. Subhanallah, setelah ku baca surat itu, alhamdulillah ternyata aku mendapat sebuah tawaran pekerjaan dari pemerintah. Mereka memberiku tugas untuk menerjemahkan dan menulis ilmu di Ummul Qura. Ini adalah anugerah yang tidak terhingga untukku. Terima kasih Tuhan….
Apa ya isi surat yang kedua. Ku buka surat berwarna putih yang bersih itu, bismillahirrahmaanirrahiim….



Untuk sahabatku                                                                     11 Agustus 2010
Di Padang

Assalamu’alaikum wr, wb.
Maaf sebelumnya aku tidak mengabarimu selama empat tahun. Dan juga permintaan maaf dariku karena kedatangan surat ini datangnya tiba-tiba. Aku juga mohon maaf jika kata-kataku membuatmu terkejut.

Adanya cinta karena kuasa alam
Alam merombak dunia  menjadi penuh cinta
Benih-benih cinta ditaburkan melalui angin kasih sayang
Menari-nari dengan penuh smangat
Harapan adalah cinta
Harapan takkan pernah pudar
Harapan adalah sumber kekuatan
Dan karena harapan adalah jalan untuk merangkuh sesuatu
Kuatnya cinta karena adanya harapan

Tingginya gunung sulit  didaki
Tingginya cinta terhadap Sang Maha Cinta
Kasih sayang bertebaran di seluruh permukaan bumi
Berharap ada jalan sempurna untuk di tempuhkan

Kata-kata tak lepas dari cinta
Suatu sandaran dimana kita hilang arah
Disanalah cinta yang mendamaikan
Karena cinta penuh dengan harapan yang cerah

Jangan pernah berharap jika tak memilliki cinta
Harapan akan terwujud bagi yang memiliki cinta
Itulah dia kekuatan  cinta yang abadi
Yaitu cinta pada Sang Maha Cinta.
Aku berharap karti bisa memahaminya. Aku hendak melamarmu.

Wasalam

Asyraf Nashrul Haq

Subhanallah,,,rezki datang dengan sendirinya setelah kita berusaha. Setiap jalan pasti ada tempat pemberhentiannya, aku akan berhenti dimana titik-titik jalan telah kutemukan. Terima kasih ya Allah Engkau mengirimkan malaikatmu untuk melebarkan sayapnyanya untukku. Aku masih ingat nasehat Asyraf kepadaku “ Allah pasti mengabulkan segala permintaan kita, Cuma waktu untuk terwujudnya doa itu ditangguhkan Allah, sampai kesabaran kita diuji dalam meniti kehidupan, mengikat ilmu dengan api yang kita nyalakan.”
Aku tahu betul, sifat Asyraf yang suka memberi kejutan. Tapi yang tidak aku pahami darinya, sikapnya yang selalu ramah dan tak pernah marah jika aku sering buat ulah. Asyraf selalu tersenyum. Mungkin ini adalah arti senyuman yang penuh makna itu.
Tanpa ku sadari mataku berkaca-kaca, mata dan hati yang penuh bersyukur dan bahagia. Aku tak lepas dari kata-kata bersyukur kepada Sang Maha Cinta. Akhirnya cita dan cintaku terwujud.*** Padang (Terbit di Antologi Tabloid Qalam)

CERPEN DERAI-DERAI KETEGUHAN

Oleh : Methia Farina


Perjalanan sangatlah panjang
Penantian membutuhkan kesabaran
Perjuangan membutuhkan keikhlasan
Pengorbanan membutuhkan seutas senyuman ketulusan
Persatuan membutuhkan sikap saling percaya
Keteguhan membutuhkan kesetiaan dan keyakinan


Suasana pagi yang cerah, kicauan burung yang merdu seirama dengan suara Ibu Dwi yang sedang asyik menerangkan pelajaran Bahasa Indonesia. Seorang gadis yang sedang menikmati penjelasan dari Ibu Dwi, matanya yang bersih,bulu matanya yang panjang menambah keindahan matanya, wajahnya yang baby face, kulitnya kuning langsat, ditambah balutan kain yang menutupi kepalanya menambah kecantikan yang luar biasa. Pelajaran Bahasa Indonesia adalah pelajaran yang sangat di sukai oleh Reihana, tutur kata Ibu Dwi yang begitu khas membuat semua siswa diam seribu bahasa. Bel pertukaran pelajaran pun berbunyi, semua siswa melepaskan keringatnya. “Alhamdulillah…semoga apa yang disampaikan oleh Ibu Dwi bermanfaat bisik, Reihana dalam hatinya.”
Bel istirahat pun berbunyi semua siswa berhamburan keluar, Hana yang sedari tadi berbincang dengan Reva, Reva adalah sahabat Hana, mereka bertemu saat pertama MOS dulu.
“Va jika kamu sudah tamat dari sekolah ini, kamu mau melanjutkan kemana?
“Aku sih maunya ke yogyakarta,,”
“Kenapa kamu mau ke yogyakarta? Tanya Reihana.
“Alasan yang pertama disana ada keluargaku dan biaya hidup di yogayakarta lebih murah.
“Mmm….begitu ya.”
“O ya Hana, setelah selesai menyelesaikan statusmu sebagai pelajar kamu mau melanjutkan kemana?
“Mmm,,entah kenapa Va, Aku tertarik sekali ke Mesir, rasanya ada seruan memanggilku, padahal aku tidak tahu bagaimana kehidupan mahasiswa disana.”
“Hana, mudah-mudahan suatu hari nanti cita-citamu tercapai, Va akan selalu mendukungmu.”
“Va, aku tidak akan pernah melupakan persahabatan kita, karena sahabat bagiku adalah segalanya, aku akan memetik seluruh bintang untuk sahabatku, karena sahabat adalah bintang yang menyinari hidupku.”
Reihana tidak mampu menahan kristal yang sudah berada dikelopak matanya,mereka saling bepelukkan.
Bel berbunyi semua siswa masuk kedalam kelas, semua siswa duduk dengan tertib.
“Hana, kamu lihat nggak, ketua OSIS itu, Dia sungguh ganteng, badannya tegap, wajahnya baby face, matanya sipit pakaiannya rapi, jika berjalan Dia seperti cover boy yang bijaksana.”
“Iih…kamu ini apa-apaan sih Va,,jangan terlalu memperhatikan orang lain nanti kamu dapat penyakit.”
“Benar, Hana..!
Hana tersenyum melihat keheranan temannnya.
Hana….!
Aku terkejut ada suara yang memanggilku, siapa ya yang memanggilku, lalu aku mencari sumber suara itu, ternyata Aldi yang memanggilku.
“Cieh,,dipanggil ketua OSIS ni,,Reva menggoda Hana.”
“Paling juga rapatan OSIS yang diumumkan.”
“Bagi nama-nama yang terpanggil tadi diharapakan segera keruangan OSIS karena kita akan membicarakan kegiatan yang akan kita adakan untuk menyambut tahun bari Hijriah, oh ya Hana nanti tolong buat surat untuk untuk DEPAG ya.”
“Insyaallah Aldi.”
Dalam organisasi OSIS Hana aktif dalam hal surat menyurat, karena Dia menjabat sebagai sekretaris OSIS. Reva yang duduk disampingku melotot padaku.
“Emangnya ada yang aneh, kenapa kamu melihat seperti itu kepadaku?
“Nggak ada yang aneh kok, tapi aku lihat dari tadi kamu begitu grogi berbicara dengan Aldi, emangnya ada apa sih Hana?
“Nggak ada apa-apa kok.” Hana berusaha menghilangkan keresahannya.
Suara adzan yang berkumandang membuat hatiku bergetar seakan memanggilku, kuberanjak dari tempat duduk mengikuti panggilan itu, air yang mengalir diwajahku mencerahkan fikiranku yang gelap, melapangkan dadaku yang sesak, mencerahkan hatiku yang gundah. Ku ingin cepat-cepat menghadap Ilahi dan mencurahkan segala yang menyesakkan dadaku. Semua siswa pergi mushala sekolah, Aku berjalan dengan Reva mengaharapkan ridha Allah, Ku lihat sosok tubuh yang bertafakur dengan penuh khusyuk menghadap Ilahi.
“Aldi bisikku, astaghfirullah ampuni aku ya Allah, mataku begitu lancangnya melihat hambaMu yang belum menjadi haq ku untuk kulihat.
Akupun duduk mengikutui shaf yang kosong.
Ya Ilahi hamba menghadapkan wajah kepadaMu, mengharapkan maghfirahMu, Ya Rabbi berikanlah hamba kemudahan, kekuatan dalam menjalani kehidupan ini,, ya Rabbi jadikanlah hambaMu ini dalam golongan hamba-hambaMu yang beriman, bertaaqwa dan berilmu amin ya rabbal’alamin.
Ku merenungi semua yang telah terjadi, aku merasa Allah begitu dekat disaat aku sujud.
***
Setelah shalat magrib, Hana membaca surat yasin, Dia sangat menghayati satu persatu kandungan surat yasin , meski tidak sempurna. Selesai membaca surat yasin dan melipat mukena yang menutupi seluruh tubuhnya, kemudian Dia kembali membuat tugas yang diberikan oleh Aldi, sosok pemuda yang agamais, Dia hafizh Al-Quran. Seandainya saja…..Aku…..astaghfirullah, Hana beristighfar dan berhenti dari lamunannya, lalu Dia mengambil wudhu.
Ya Rabbi,,,jika suatu hari nanti Dia akan menjadi jodoh hamba janganlah hamba terlarut dalam bayangan semu seperti ini, hindarkanlah hamba dari nafsu  yang terkutuk ini, janganlah hamba terlena akan bujuk rayuan syetan, jagalah, lindungilah, kasihanilah hambaMu ya Rabbi, ya Rabbi jika aku adalah takdirnya ikatkanlah hamba dengannya dengan ikatan yang halal, Engkau Rabbi semesta alam yang maha mendengar, kabulkanlah do’a hamba ya Rabbi, ya Rahman, ya Rahiim amin yaa Rabbal’alamin.
Beningan permata yang mengumpul jatuh membasahi pipinya yang segar. Dia memejamkan matanya, kemudian Dia kembali mengerjakan tugas yang diberikan oleh Aldi. Sudah lelah otaknya berfikir, seluruh kekuatnnya telah Dia habiskan untuk tugas-tugasnya. Nyanyian jengkrik yang merdu membuat Dia tertidur pulas. Kira-kira pukul 02.00 malam ponselnya berdering, ternyata itu adalah panggilan dari tahajjud call, Dia sengaja mengikuti program tahajjud call, karena teringat ustadznya berpidato yang intinya:
“gunakanlah waktu malammu untuk beribadah, tahajjud itu ibarat cahaya yang menyinari sebuah kegelapan dan jika ditransfer kedalam bahasa keilmuan, maka tahajjud merupakan inspirator handal yang menolong setiap waktu.”
“Alhamdulillah aku terbangun juga.”
Air wudhu yang mengalir membawa kesejukkan didalam hatinya, Ia mengambil mukena yang terlipat rapi, suasana malam yang sunyi, disaat semua orang terlelap tidur, Dia begitu  rajin mengerjakan shalat sunat tahajjud, karena Dia merasa capek Dia hanya mengerjakan empat raka’at saja kemudian ditutup dengan shalat witir tiga raka’at. Setelah shalat Dia melantunkan ayat suci Al-Qur’an, suaranya begitu merdu sehingga jengkrik-jengkrik yang berbunyi terdiam.
***
Pagi yang cerah Hana memulai aktivitasnya dengan berwudhu kemudian duduk diatas sajadah, Dia merenungi betapa besar nikmat Allah yang telah menyediakan malam untuk beristirahat dan siang untuk beraktivitas. Suara adzan yang berkumandang membangunkan semua orang yang tidur untuk menghadap Rabb.
Ya Rabbi betapa besar nikmat yang Engkau berikan  pada makhlukMu,, jadikanlah hambaMu ini daripada golongan orang-orang yang senantiasa bersyukur, bersabar dan bersujud kepadaMu didunia dan akhirat,,semoga hamba bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, amin ya rahman ya rahiim.
Seperti biasa setiap hari Minggu Reihana ada agenda menthoring, suatu kegiatan yang rutin yang Dia lakukan setiap hari Minggu. Matahari sudah naik, Hana cepat-cepat bergegas pergi, hampir saja Dia lupa membawa Al-Qur’an. Dia nampak tergesa-gesa dan nafasnya tersendat-sendat.
“Assalamu’alaikum…
Hana melangkah menuju aula pertemuan, semua mata tertuju pada Hana, dengan langkah yang tertatih-tatih Hana mempercepat langkahnya, dengan perasaan malu Hana duduk dismping Reva dan memnundukan wajahnya, sepasang bola mata memandangi Hana.
“Ukhti kenapa terlambat?
“ ‘Afwan ustadzah, ana nashara ummi liyasytari ruzh ila suq.”*
“Laa ba’sa, fahimtu.”*
“Jazakillahu khairan yaa Ustadzah.:*
“ ‘Afwan Hana.”*
Kelembutan hati ustadzah membuat hati Hana tersentuh, beliau adalah sosok perempuan yang beribawa yang mengerti akan dirinya, sosok itu adalah mbak Sofia dari namanya saja sudah kelihatan kelembutannya.
Ya Rabbi kenapa hamba terus mengingatnya, ya Rabbi hamba ingin menjaga hati dan mengikuti perintahMu.
 Hana berdo’a dalam hatinya, tanpa Dia sadari butiran kaca telah membasahi pipinya. Hana teringat akan pesan Ustadznya, “Ukhti istiqamahlah jika telah datang waktunya, Allah pasti berikan yang lebih baik,” pesan itu selalu terngiang-ngiang ditelinganya.
***
Hana selalu mengingat sosok seorang laki-laki yang baik, Dia sudah menganggap sebagai kakaknya sendiri, laki-laki itu adalah Ustadznya sendiri, didalam kelas gurunya dipanggil oleh siswa-siswinya dengan panggilan ustadz. Ustadz sering mengajarkan pelajaran ushul fiqh, ilmu hadits, tafsir dan taisir. Hana sangat kagum pada Ustadznnya, karena Ustadznya selalu mengajarkan pelajaran agama dan selalu memberikan nasehat atau motivasi sebelum pelajaran dimulai.
Hatiku sangat senang jika Ustadz masuk kedalam kelas, Ustadz adalah sosok guru yang tak mengenal lelah, walaupun badannya lelah dan letih Dia selalu mengajar dan mendidik siswa-siswinya, walaupun kegitan dakwahnya sangat padat Dia selalu menyempatkan diri untuk mengajari kami. Betapa tulus hatinya mengajar dan mendidik kami, meskipun upah gaji seorang guru yang honor sangat sedikit dan gajinya itupun tidaklah cukup untuk kebutuhan keluarganya, belum lagi beli minyak bensin sepeda motornya setiap hari pergi sekolah tidaklah sebanding dengan gaji yang diberikan.
Namun demikian beliau tetap semangat mengajar dan mendidik kami, senyum selalu terpancar dari bibirnya, cahaya keikhlasan selalu bersinar diwajahnya. Memang disekolah kami tidak ada guru yang mahir mengajarkan pelajaran ushul fiqh, ilmu hadits, tafsir dan taisir kecuali Ustadz.
Ustadz selalu menasehati kami untuk selalu menutup aurat, walaupun hanya beberapa saja yang menaati perintah agama termasuk Aku, Ustadz tidak pernah bosan-bosan menyampaikan kepada kami, walaupun teman-teman lain sudah bosan mendengarkannya. Terkadang jika Aku ada masalah, Aku sering cerita kepada beliau, salah satu balasan smsnya yaitu:
“Asw,,itulah salah satu yang ingin Ustadz katakan, memang segala sesuatu itu adalah pilihan kita, kita hanya berdo’a agar jangan terjebak dengan tipuan dan kesenangan dunia yang sementara, coba Ukhti hayati suart Al-Hajj:47 dan Al-Mukminun:112-113, Ustadz berharap Ukhtilah yang istiqamah, betapa senangnya hati Ustadz, kita do’akan mereka agar kembali kejalan yang diridhai Allah amiin.”
Itulah sms yang dikirim Ustadz kepadaku, meski Aku telah tamat dari sekolah itu, Aku tidak akan pernah melupakan kenangan yang begitu indah disaat bersama-sama dulu, kebersamaan yang dirintis menuju Rabbani. Hana selalu mengingat pesan-pesan Ustadznya, karena melalui perantara Ustadznya itulah Allah memberikan hidayah kepadanya, Dia telah bisa menutup aurat dengan baik, Allah telah memberikan hidayah nur kepadanya. Banyak remaja-remaja sekarang yang terjebak dalam kesenangan dunia semata. Hana sangat bersyukur bahwa Dia telah bisa merasakan begitu nikmatnya sebuah keimanan. Padang (Terbit di tabloid Qalam)
***


* Maaf ustadzah, saya menolong Ibu untuk membeli beras kepasar.
* Tidak apa-apa, saya faham.
* Semoga Allah membalas segala kebaikkanmu ya Ustadzah.
* Sama-sama Hana.

Selasa, 15 Mei 2012

CERPEN JIWA PERMATA

Oleh: Methia Farina

Memandang pohon di sudut rumahku. Pagi ini masih diselimuti kabut. Langit biru di tutupi awan, seolah-olah matahari malu menampakkan dirinya. Pagi ini entah mengapa aku begitu enggan menikmati makanan di hadapanku. Ada sosok wajah yang mengganggu pikiranku. Tahukah kawan. Wajah yang amat mengganggu pikiranku. Karena aku sering terganggu dengan wajah itu. Aku amat merindukannya. Wajah yang telah menjadikan aku seperti aku yang aku inginkan.
Ibu, itulah yang mengangkat jiwaku ke pelabuhan cita-citaku. Masih belum genap dua tahun pusara itu kelihatan awal aku melihat wajahnya. Masih meraba tanganku di pusara itu. Ingatanku masih seperti awal aku dilahirkan. Senyum yang anggun, wajah yang selalu memancarkan cahaya. Membidik jiwaku menjadi pemberani dan santun.
Satu kalimat saja sudah berarti bagiku. Mengapa aku begitu kehilangan kalimat itu. Menyadari kalimat itu yang aku butuhkan. Namun terhempas dan terputuskan oleh masa yang sudah mulai menua.
Ifham, adalah sebuah nama yang diberikan oleh orang terkasih padaku. Masih melekat diingatanku masa-masa aku mencari cinta. Bagiku itulah masa di mana aku menemukan cinta dan kasih sayang.
***
“If, maafkan kakek, seharusnya kakek mengatakan ini dari awal engkau di titipkan di sini.”
“Memangnya ada apa, Kek!”
“Sekarang umurmu hampir 22 tahun. Sudah seharusnya kakek angkat bicara.”
Ifham, semakin heran akan perkataan kakeknya. Berbagai pertanyaan timbul dalam pikirannya. Dengan seksama dan teliti, ia dengarkan kakeknya bercerita.
“Kamu kenal dengan  Munah?”
“Ooo, Bibi Munah. Aku kenal sekali, Kek! Beliaulah yang membesarkan dan merawat aku dari kecil, Kek!”
Tanpa curiga, Ifham dengan bangga menceritakan kepada kakeknya. Walaupun baru beberapa bulan ia tinggal bersama kakeknya. Dia sangat akrab sekali, seperti seorang ayah dan anak.
“Apa saja yang kamu ketahui tentang Munah?”
“Bibi Munah amat penyayang kepadaku, Kek! Aku merasakan ada jiwa keibuan dalam diri Bibi Munah.”
Ifham berhenti bicara, ia merasakan kehilangan sosok yang selama ini dicari-carinya. Ibu, adalah pujangga hatinya. Namun ia tidak mengetahui ibunya sejak kecil. Awal dari kelahirannya ia tinggal dengan ayahnya.
“If, sebenarnya Munah itu adalah ibumu. Ayahmu sengaja tidak memberitahumu. Karena itu adalah permintaan ibumu.”
Tubuh Ifham bergemetar hebat. Matanya memerah, entah sedih, marah, kecewa, ia juga tidak tahu. Yang jelas hari itu adalah hari yang merobah hidupnya. Keringat dinginnya meluncur begitu saja, lidahnya terasa kaku. Entah perkataan apa yang hendak diucapkannya.
***
Aku bertanya pada matahari, bulan, dedaunan. Di manakah ibuku berada. Aku terhenyak, menyandarkan punggung pada dinding-dinding bambu tempat Bi Munah. Ke mana lagi aku mencari ibuku. Kenapa Bi Munah tidak memberitahuku yang sebenarnya? Apa yang sebenarnya terjadi? Ifham melarikan pikirannya saat ia diasuh oleh Munah. Dulu ia juga heran dengan bibinya. Bibinya begitu akrab dengannya. Seakan ia berada di pangkuan ibunya.
Senja mulai menampakkan dirinya. Mega merah mulai bermunculan. Awan sedikit demi sedikit mulai hilang terangnya. Ifham masih bertanya-tanya dalam hatinya. Kenapa bibinya merahasiakan identitasnya. Dan kenapa pada saat ia membutuhkan bibinya, bibinya menghilang begitu saja. Tidak tahu rimbanya entah ke mana.
“Kek, beritahulah aku, apa sebenarnya yang terjadi? Aku tidak bisa memecahkan misteri ini sendirian.”
Mata Ifham sayu memandang wajah kakeknya. Garis-garis yang melekat di pipi kakeknya terlihat dalam dan melengkung. Rambut putih itu berusaha mencari-cari kata yang tepat untuk cucunya.
“Begini cucuku, masa itu adalah masa yang berat bagi ibumu. Serentetan cobaan tak henti  mengejar ibumu. Setelah kelahiranmu, ibumu menderita HIV, yang menular melalui makanan.”
Ifham tak kuasa menahan tangisnya. Ibunya begitu menderita. Tak terbayang olehnya, begitu beratnya cobaan itu. Sambil menahan isak tangisnya, ia mencoba bersuara.
“Kenapa ibu bisa terkena penyakit itu, Kek?”
“Hmm, ada orang yang tidak bertanggung jawab, menularkan virusnya lewat makanan dan minuman.”
“Sungguh biadabnya orang itu, Kek! Aku ingin melaporkan kepada pihak yang berwajib!”
“Ibumu sudah mengikhlaskan pelakunya. Ibumu selalu tersenyum menerimanya, Cucuku!”
Jelas saja ibu melarang aku mendekatinya dan memegang tangannya. Ia selalu menatapku dari jauh. Apabila aku terluka, ibu hanya diam memandangku. Diam-diam ibu menyembunyikan air matanya. Hati seorang ibu manakah yang tidak sedih dan terluka melihat anaknya dalam kesakitan. Aku  masih ingat ibu memasak untukku. Masakan ibu begitu enak. Ingin aku mengulangi hari dengan ibu. Ibu engkaulah permata jiwakku dan jiwamu ibarat permata yang bersinar.
Hati siapa yang tidak sedih. Berpura-pura dalam ketidaktahuan. Berpura-pura ceria disemua wajah. Menyimpan identitas demi kebaikan seorang anak. Seorang anak adalah pelita hati orang tua. Pelipur lara dan kedukaan.
“Kek, di mana aku bisa menemukan ibu?”
“Ibumu sekarang berada di rumah sakit Ibnu Sina Padang.”
***
Langkahku terasa berat. Begitu lama terasa sampai di rumah sakit. Jantungku berdegub kencang. Seolah bertemu sang kekasih. Ya, ibuku adalah kekasih hatiku. Kata pujian dan doa tak pernah henti dalam hati dan ucapanku.
Ternyata langkah kakiku begitu lambat. Dan waktu begitu cepat berlalu. Aku hanya melihat pusara ibu. Tuhanku, apa arti semua ini. Kenapa dan kenapa? Tuhan , aku ingin merasakan tangan yang penuh kasih sayang itu. Merangkul tubuhnya yang harum. Mencium tangannya dan tidur bersamanya.
Tuhan, ternyata Engkau lebih menyayangi ibuku. Pencarianku selama ini terhenti, dan itu Engkau yang menghentikannya, Tuhan. Biarkan aku menangis saat ini. Detik ini aku ingin tidur dan berharap bertemu dengan ibuku.
Dalam tidurku, aku masih memanggil nama ibu. Ibu yang belum sempat aku peluk seumur hidupku. Begitu lama dan panjang derita ibu. Tuhan, Engkau Maha Mengetahui waktu yang terbaik. Aku bersyukur pada-Mu Tuhan, atas terbuka kunci dari segala pertanyaanku. Dan Engkau memanggilnya di saat aku sangat membutuhkannya. Aku tahu Tuhan dan aku pasrahkan hanya pada-Mu sepenuhnya. Ini pasti adalah terbaik untukku. Dan kehendak-Mulah yang Maha terbaik.
Masih aku ingat cerita lama. Begitu memukul jantungku. Segala jawaban atas pertanyaanku sebenarnya ada pada diriku. Waktu, terima kasih aku padamu. Tanpa waktu aku tak lahir dan tak melihat wajah ibu. Itulah wajah yang sselama ini aku cari.
Kembali tiupan angin menyentuh kulitku. Aku merasakan kesejukan. Apa itukah ibu? Menyapaku di sudut ruangan penuh makna ini. Semoga. ***Padang (11 Desember 2011)


CERPEN KESAKSIAN ALAM


Oleh: Methia Farina

Kala senja menemani kegundahanku. Aku menatap langit yang mulai merah dengan beriringnya terbenam matahari. Aku berkisah padamu tentang penuduhan yang bukanlah kesalahanku. Tahukah teman ada balasan terhadap apa yang diperbuat. Alam ini berproses. Alam ini menyaksikan. Alam ini merasakan. Alam ini memiliki kekuatan. Energi alam ini menyatu dengan diriku. Aku berlari secepat mungkin  melewati semak-semak. Malam sudah semakin larut–senja pergi menyapa malam.
Aku seperti mengenal perempuan itu. Beberapa hari ini dia selalu mengikutiku. Kulitnya kuning langsat. Rambutnya yang menyentuh bahunya. Ditarik-tarik oleh angin senja. Samar-samar aku melihat wajahnya. Senja menghambat penglihatanku. Perempuan itu mendekat padaku. Malam itu tiada rembulan menerangi. Aku berjalan berdua dengan perempuan itu. Jalan mendaki kami lalui. Aku tidak mengerti mengapa dia beriringan denganku bahkan semakin dekat denganku. Aku mempercepat jalanku. Firasatku mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi. perempuan itu mengejar langkahku.
“Abang! Boleh kenalan? Namaku Mira.”
Langkahku tiba-tiba surut. Aku berhenti menoleh padanya.
“Boleh, namaku Alfan.”
“Abang tinggal di mana? Bolehkah aku main ke rumah?”
Kakiku terus melangkah. Aku takut. Malam semakin pekat, sementara jalan mendaki ini tidak memiliki lampu jalanan. Hanya mata hatiku yang meraba-raba bumi yang aku pijaki. Lama aku tidak menjawab pertanyaan permpuan yang bernama Mira itu. Ada sesuatu mengganjal di hatiku. Aku juga tidak tahu. Apa itu.
“Sedikit lagi rumahku akan kelihatan. Tidak jauh dari pendakian ini.”
Perempuan itu memegang tanganku, erat. Aku terperanjat. Jantungku berdebar kencang.
“Apa ini! Lepaskan!”
Di belakangku telah berkumpul beberapa orang pemuda. Mereka memegang tanganku. Menyeretku.
“Ada apa ini? Apa yang kalian lakukan?”
“Jangan pura-pura tidak tahu, Alfan. Kamu bermaksud menodai gadis ini kan!”
“Apa kamu bilang, Rendi? Aku bukanlah seperti yang kamu tuduhkan. Jika aku melakukan itu apa buktinya?”
“Lihatlah! Gadis itu menangis, baju bagian depannya telah kau robek!”
Ya Tuhan. Apa yang telah terjadi. Apa maksud ini semua. Aku tidak melakukan apa-apa. Perempuan itu sendiri yang merobek bajunya. Tolonglah aku Tuhan. Mataku merah menahan amarah. Jelas-jelas aku tidak melakukan apa-apa.
“Ini fitnah! Tanyakan pada gadis itu. Aku tidak bersalah!”
“Diam...! Mana ada orang jahat mengaku jahat. Bodoh!”
Perempuan itu diam. Dia menunduk. Seolah dia benar. Berpura-pura menangis.
“Aku tahu Rendi, kau sangat benci padaku. Janganlah kau fitnah aku seberat ini. Orang tuaku tak akan sanggup mendengarnya.”
Rumahku telah dipenuhi oleh para tetua adat kampung. Aku berpura-pura pergi ke kamar mandi. Malam semakin pekat. Tidak ada bulan dan bintang. Langit di tutupi awan tebal. Hitam. Gelap.
Aku mempercepat langkahku. Di belakang rumahku ada jalan tembus ke tanjung bungo. Namun harus melewati pematangan sawah. Terjalnya lereng. Belukarnya semak-semak. Menyeberangi sungai. Kemudian melewati sawah lagi. Dulunya kampungku dengan kampung seberang tanjung bungo, di pisah oleh sungai kecil. Konon hendak disatukan. Namun entah apa yang terjadi sampai saat ini belum juga bersatu. Atau mungkin wilayah sungai yang semakin membesar sehingga sulit disatukan.
Sebenarnya aku tidak bisa melihat jalan. Entah kekuatan apa, mendorongku untuk melewati tantangan ini. Hewan buas yang sering berkeliaran malam. Tak menghentikanku untuk berlari sejauh mungkin dari rumah.
“Alfan dengan Mira harus dinikahkan malam ini juga!” Bentak salah seorang tetua kampung.
Di rumah hanya ada orang tuaku, dua orang kakakku dan empat orang adikku yang masih tergolong kecil-kecil. Mereka tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya.
“Alfan tidak mungkin melakukan hal jijik semacam itu! Aku mengenal adikku. Dia adalah tulang punggung keluarga yang bertanggung jawab. Mustahil hal itu dilakukannya!” Sela kakak perempuanku yang begitu berani. Sementara kakak laki-laki dan orang tuaku tidak mampu untuk berkata-kata.
“Pokoknya dia harus dinikahkan dengan perempuan ini. Malam ini juga! Kalau tidak kampung kita akan menanggung malu.”
“Tidak bisa! Adikku telah difitnah orang. Dia tidak bersalah. Kenapa harus dinikahkan? Tidak masuk akal!”
“Di mana Alfan?”
“Dia pergi. Tuduhan kalian semua tidak ada bukti yang jelas. Tanyakakan pada perempuan itu apa sebenarnya telah ia lakukan terhadap dirinya sendiri!”
“Wah, terbuktikan dia bersalah. Kalau dia memang benar, tidak mungkin dia akan lari.” Rendi mengejek Rona, kakak Alfan.
“Jangan anggap kami ini bodoh. Aku tahu siapa kamu Rendi. Ingatlah! Alam akan murka padamu!”
Malam itu seakan membelah langit. Petir berteriak mengguncang keheningan malam. Rona berpikir. Ini semua adalah rekayasa Rendi. Rendi telah lama iri dan benci pada Alfan. Alfan lebih gagah dari padanya. Wajah Alfan yang kemiripan orang bule. Ototnya yang kekar. Matanya coklat pirang. Tingginya yang menambah kegagahannya. Banyak wanita yang naksir padanya. Namun Alfan tidak mudah tertarik dengan wanita.
Mira tidur di rumah Rona semalam. Tidak memungkinkan baginya untuk pulang ke rumahnya. Memang benar, sepandai-pandainya orang menfitnah. Kebenaran pasti terwujud. Alfan selamat dari tuduhan itu. Rona telah menyelamatkannya. Rona tahu bahwa adiknya tidak bersalah. Perdebatan semalam dengan para tetua adat kampung, tidak menyurutkan nyalinya. Apalah arti tetua kampung saat ini. Mengetahui yang benar dan salah saja mereka tidak bisa melihat.
***
Satu tahun telah berlalu. Nada sumbing yang dilontarkan pada Alfan lenyap. Alfan telah mendapatkan bidadari yang diimpikannya. Dia bahagia hidup dengan perempuan yang dipilihnya.
Alfan dikaruniai seorang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan. Delapan Tahun ia menjalani bahtera rumah tangga. Kesulitan kehidupan, di hadapinya dengan kesabaran.
Tak sengaja ia mendengar berita. Rendi tega menodai adik istrinya. Alam membuktikan kesaksiannya.