MENGARANG DENGAN ILHAM

Melihat, mengalami, merasakan dan membaca.
Menjadi SASTRAWAN
Tampilkan postingan dengan label PENELITIAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENELITIAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juni 2012

RANCANGAN PENELITIAN



Dalam melakukan penelitian, orang dapat menggunakan berbagai macam metode, dan sejalan dengannya rancangan penelitian yang digunakan juga dapat bermacam-macam. Untuk menyusun sesuatu rancangan penelitian yang baik perlulah berbagai soal dipertimbangkan. Keputusan mengenai rancangan apa yang akan dipakai akan tergantung kepada tujuan penelitian, sifat masalah yang akan digarap, dan berbagai alternative yang  mungkin digunakan. Berdasarkan sifat masalahnya berbagai macam rancangan dapat digolongkan kebeberapa macam kategori yaitu:
A.    Rancangan Penelitian Sejarah
Tujuan penelitian sejarah ini adalah untuk membuat rekontstruksi masa  lampau secara sistematis dan objektif, dengan cara mengumpulakan, mengevaluasi, memverifikasikan, serta mensintesiskan buku-buku untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat.[1]
Penelitian sejarah atau konsep historis adalah suatu penelitian yang berusaha menetapkan fakta dan mencapai kesimpulan mengenai hal-hal yang telah berlalu. (Ary, et all.,1979). Jadi, dapat diketahui bahwa penelitian sejarah mencoba menyimpulkan segala fakta yang terjadi di masa lampau. Dalam hal ini, para pakar sejarah mencoba mendeskripsikan (mencari, mengevaluasi, dan menafsirkan) berbagai bukti yang dapat dijadikan landasan untuk mengkaji masa lalu. Sehingga diperoleh suatu pengetahuan tentang bagaimana dan mengapa peristiwa itu terjadi pada masa lalu, serta bagaimana proses pada masa lalu itu berubah menjadi masa kini. Ubaidat, et all (1987)  mengatakan bahwa peneliti mengumpulkan berbagai fakta dan data melalui kajian terhadap dokumen dan berbagai situs peninggalan yang ada. Berarti dapat dipahami bahwa penelitian sejarah menurut pendapat ini adalah memanfaatkan berbagai dokumen dan situs untuk mengumpulkan fakta dan data untuk dikaji. Sedangkan menurut Nazir (1988), penelitian lebih menekankan pada aspek waktu  terjadinya fenomena yang diselidiki.
Menurutnya banyak ahli yang mempersamakan metode sejarah ini dengan metode dokumenter, karena pada metode sejarah banyak juga terdapat data- data yang didasarkan pada dokumen-dokumen. Akan tetapi, dia berpendapat bahwa ad perbedaan antara keduanya, karena dokumenter bisa menyimpan data masa kini, tidak hanya data masa lalu.Dalam konteks bahasa dan sastra Arab, metode atau rancangan ini dapat digunakan untuk mengkaji munculnya beragam dialek Arab pada berbagai suku yang ada,  mengkaji naskah Arab kuno atau mengkaji naskah sastra Arab klasik dan mengkaji jenis dan motif otografi Arab pada situs-situs makam para wali songo maupun makam-makam tokoh penyebar agama Islam pada masa lalu. Dalam pembelajaran bahasa Arab tema yang dapat diangkat adalah penelitian tentang strategi pembelajaran bahasa Arab yang khas digunakan oleh guru-guru pada masa pra kemerdekaan.
1)      Ciri-Ciri penelitian Sejarah
Menurut Nazir (1988), rancangan atau metode sejarah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Metode ini lebih terfokus pada data yang diamati orang lain di masa-masa lampau.
b.      Data yang digunakan lebih banyak bersumber pada data primer, karena bobot data harus dikritik, baik secara internal maupun eksternal.
c.       Metode sejarah mencari data secara lebih tuntas serta menggali informasi yang lebih tua yang tidak diterbitkan ataupun yang tidak dikutip dalam bahan acuan yang standar.
d.      Sumber data harus dinyatakan secara definitif, baik nama pengarang, tempat, dan waktu. Sumber tersebut harus diuji kebenaran dan keasliannya. Fakta harus dibenarkan oleh sekurang-kurangnya dua saksi yang tidak pernah berhubungan.[2]

2)      Sumber Primer dan Sekunder
Oleh karena objek penelitian sejarah adalah peristiwa atau kehidupan masyarakat pada masyarakat masa lampau maka yang menjadi sumber informasi harus mempunyai karakteristik yang berbeda dengan metode penelitian laninya. Beberapa sumber tersebut diantaranya sebagai berikut :
1.      Sumber-sumber primer, yaitu data yang diperoleh dari cerita para pelaku peristiwa itu sendiri, dan atau sanksi mata yang mengalami atau mengetahui peristiwa tersebut. Contoh sumber-sumber primer lainnya yang sering menjadi perhatian para peneliti di lapangan atau situs di antaranya seperti, dokumen asli, relief dan benda-benda peninggalan masyarakat zaman lampau.
2.      Sumber informasi sekunder, yaitu informasi yang diperoleh dari sumber lain  yang mungkin tidak berhubungan langsung dengan peristiwa tersebut. Sumber sekunder ini dapat ini dapat berupa para ahli yang mendalami atau mengetahui peristiwa yang dibahas dan dari buku atauu catatan yang berkaitan dengan peristiwa, buku sejarah, artikel dalam ensiklopedia dan review penelitian.[3]

3)      Jenis Penelitian Sejarah
Penelitian sejarah dapat dibagi empat jenis, yaitu penelitian sejarah komparatif, penelitian yuridis, penelitian biografis, dan penelitian bibliografis (Nazir,1988).
1.      Penelitian sejarah komparatif
Adalah suatu penelitian yang mencoba membandingkan berbagai variabel dari fenomena sejenis pada suatu periode di masa lampau. Misalnya, peneliti membandingkan sistem pembelajaran bahasa Arab di Jawa dan di malaysia pada masa kerajaan Mataram.
2.      Penelitian Yuridis
Adalah penelitian yang mengkaji perihal hukum (formal maupun non-formal) pada masa lalu. Jadi, penelitian Yuridis lebih menitikberatkan pada aspek hukum yang akan diteliti.
3.      Penelitian Biografis
Adalah suatu penelitian yang mengkaji kehidupan seseorang dan hubungannya dengan masyarakat. Dalam penelitian ini yang sering dikaji adalah watak, sifat, pengaruh orang tersebut terhadap lingkungan masyarakatnya, dan lain-lain. Sumber yang dapat diakses adalah surat-surat pribadi, buku harian, hasil karya, karangan-karangan atau catatan temannya tentang figur seorang yang diteliti.
4.      Penelitian Bibliografis
Adalah suatu penelitian untuk mencari, mengkaji, menganalisis, membuat interpretasi dan generalisasi dari fakta-fakta yang merupakan pendapat para ahli dalam suatu masalah (Nazir,1988).

4)      Kritik Terhadap Metode sejarah
Ada dua hal pokok yang perlu dikritisi agar hasil yang diperoleh sahih adanya:
1. Kritik eksternal, yaitu peneliti harus mempertanyakan keaslian sumber    atau bukti yang diteliti.
2. Kritik internal adalah kritik yang lebih menekankan pada evaluasi terhadap nilai atau isi bukti sejarah, misalnya apakah dokumen itu memberikan laporan yang sebenarnya tentang kejadian itu. ( Ary, et all., 1979 dan Nazir, 1988).[4]

5)      Langkah-langkah penelitian sejarah[5]
1.      Menetukan permasalahan penelitian yang diharapkan mempunyai manfaat ganda, yaitu bermanfaat bagi masyarakat dan berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
2.      Menyatakan tujuan penelitian, hypothesis and research questions yang akan memberikan arah dan focus penelitian.
3.      Mengumpulkan data tersmasuk di dalamnya menetapkan populasi, besarnya sampel, dan metode pengumpulan data. Di lapangan peneliti juga perlu mendokumentasi secara sistematis tentang sumber data termasuk primer atau sekunder. Jika perlu peneliti dapat menggunakan sistem kartu untuk mencatat informasi, topic dan sumber data, sehingga peneliti dapat lebih mudah mengatur dan menggunakan sewaktu-waktu diperlukan.
4.      Evaluasi data dengan menggunakan kritik eksternal maupun kritik internal.
5.      Melaporkan hasil penelitian kepada masyarakat, termasuk melengkapi komponen-komponen penelitian dan mengkomunikasikan ke dalam jurnal ilmu pengetahuan.

B.     Rancangan Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan mengiterpretasi objek sesuai dengan apa adanya (Best, 1982:119). Penelitian ini juga sering disebut noneksperimen. Karena penelitian ini peneliti tidak melakukan kontrol dan memanipulasi variable penelitian. Dengan metode deskriptif, peneliti memungkinkan untuk melakukan hubungan antar variable, menguji hipotesis, mengembangkan generalisasi dan mengembangkan teori yang memiliki validitas universal (West, 1982). [6]

Tujuan penelitian Deskriptif adalah membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secra sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diteliti.

Macam-Macam Rancangan Deskriptif
1.      Rancangan Studi Kasus
Menurut Bogdan dan Biklen (1982), studi kasus (case study) merupakan suatu rancangan penelitian yang memfokuskan pada suatu unit, seorang anak, suatu kelompok kecil, suatu sekolah atau kelas, suatu komunitas tertentu, dan suatu perisriwa. Dilihat dari statusnya sebagai studi kasus, maka fenomena yang diteliti merupakan fenomena yang khas, unik, dan kasuistik. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang, sifat-sifat, serta karakter yang khas dari kasus, ataupun status dari individu, yang kemudian dari sifat-sifat khas ini akan dijadikan suatu hal yang bersifat umum (Nazir, 1988).

Beberapa Contoh Tentang Penelitian Studi Kasus dalam Pembelajaran Bahasa Arab:
1.      Pembelajaran Baca Tulis Huruf Alquran di Pondok Pesantren Mamba’ul Hisan oleh Moh. Ainin.
2.      Metode Klasis dalam pembelajaran Tatabahasa Arab di Pondok Pesantren Pembinaan Pendidikan Agama Islam Desa Ketapang kec. Kepanjen Kab. Malang oleh Moh. Ainin.

Keunggulan dan Kelemahan Studi Kasus
a.       Kajian dilakukan secara mendalam dan utuh dalam totalitas lingkungan yang diteliti, sehingga informasi yang dihasilkan lebih komprehensif dan tuntas,
b.      Hasil penelitian studi kasus memberikan hipotesis-hipotesis untuk penelitian lanjutan,
c.       Kajian yang intensif ini memungkinkan ditemukan suatu hubungan-hubungan yang tidak terduga sebelumnya,
d.      Kebenaran informasi dapat ditukar ke subjek lain yang memiliki karekterisstik yang sama.

Kelemahan Studi Kasus
a.       Tidak mempunyai keluasan
b.      Sulit dibuat inferensi kepada populasi lain
c.       Unsur subjektif peneliti ikut mempengaruhi penelitian, sehingga memungkinkan dibesar-besarkannya kekhasan yang ada.
d.      Objektifitas terhadap interpretasi hasil juga masih dipertanyakan.

2.      Survei
Survei adalah salah satu bentuk rancangan deskriptif yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang variabel dan bukan informasi tentang individu ( Ary, et all., 1979). Menurut nazir (1988), metode survei bertujuan untuk memperoleh fakta dari gejala yang ada dan mencari keterangan secara faktual, baik tentang institusi sosial, ekonomi, politik dari suatu kelompok atau daerah. Menurut Ubaidat, et all., (1987), yang termasuk kategori penelitian survei adalah survei sekolah, survei sosial, meneliti pendapat masyarakat, analisa pekerjaan, dan  analisis isi.

3.      Studi perkembangan
Studi perkembangan adalah salah satu studi yang memberikan informasi penting bagi para peneliti di bidang pendidikan mengenai perkembangan intelektual, emosional, dan perkembangan sosial siswa. Melalui studi perkembangan ini peneliti dapat memperoleh informasi mengenai progresifitas kemampuan belajar siswa, perkembangan kualitas pembelajaran. Contoh penelitian ini adalah mendeskripsikan perkembangan bahasa anak/ siswa ( perkembangan penguasaan fonem, morfem, kata, tatabahasa, dan perkembangan keterampilan berbahasanya).

Teknik-Teknik dalam Studi Perkembangan
a.       Longitudinal
Dalam teknik ini, sampel yang sama dipelajari sejak jangka waktu tertentu ( Ary, et all., 1979). Menurut Ubaidat et all., (1987), pada teknik ini peneliti dapat memilih sekelompok dari individu-individu dan mengikuti perkembangannya dalam usia yang berbeda. Selanjutnya Ubaidat, et all., (1987) memberi contoh sebagai berikut. Apabila peneliti akan mengkaji perkembangan bahasa anak pada usia antara dua tahun sampai lima tahun, maka dia melakukan hal-hal berikut:- memilih beberapa anak yang berusia dua tahun
-          Mengamati kosa kata yang dimiliki oleh anak pada usia tersebut
-          Melakukan pengamatan secara kontinyu terhadap perkembangan bahasa mereka sampai enam bulan dan setahun, dan demikian seterusnya sampai anak tersebut berusia lima tahun.
-          Mencatat hasil pengamatan dalam tabel tertentu yang berisi tentang usia anak dan jumlah kata yang dikuasai anak.
-          Menyimpulkan hasil temuan

Keunggulan teknik longitudinal:
Metode ini menghasilkan suatu temuan yang detail, mendalam, dan dilakukan secara intensif. Sementara itu, kelemahannya adalah metode ini terbatas pada sekelompok kecil, membutuhkan waktu lama, apabila kebetulan sampel yang dipilih itu ternyata jelek, maka tidak ada sesuatu pun yang dilakukan untuk memperbaikinya, dan metode ini menuntut kerjasama yang intens dengan subjeknya dalam jangka waktu yang lama. Selain itu, mengikuti subjek yang selalu berpindah-pindah tempat merupakan pekerjaan yang sulit dan membosankan.

b.      Metode cross- sectional
Metode ini meneliti kelompok dari berbagai usia dan tingkatan pada saat yang sama (Ary, et all., 1979). Apabila peneliti akan mengkaji perkembangan bahasa anak antara dua tahun, lima tahun, dan enam tahun, maka langkah-langkah yang harus dilakukan:
-          Memilih kelompok anak usia dua tahun
-          Memilih kelompok anak usia tiga tahun, dan kelompok yang lain (anak usia empat tahun, dan kelompok anak usia lima tahun).
-          Mengukur atau menghitung jumlah kata yang dikuasai oleh masing-masing kelompok usia dan menyusunnya ke dalam tabel.
-          Membuat kesimpulan tentang perkembangan bahasa anak dari usia dua tahun sampai usia lima tahun.
Kelebihan yang dimiliki oleh metode ini adalah sampel yang diteliti dalam metode ini dari berbagai tingkatan dan cukup besar, serta waktu yang dibutuhkan dalam metode ini relatif singkat. Sedangkan kelemahannya adalah perbedaan yang secara kebetulan ada di antara sampel-sampel itu mungkin dapat membuat hasil penelitian menjadi bias, kemungkinan ada variabel luar yang menimbulkan perbedaan di antara populasi-populasi yang ditarik sampelnya, karena subjek terdiri dari berbagai tingkatan dan waktu yang digunakan relatif singkat, maka kedetailan dan kedalaman hasil dalam metode ini masih kurang.

4.      Studi korelasi
Studi korelasi merupakan salah satu teknik analisis data menguji hipotesis. Menurut Ary, et all.(1979), studi korelasi ini adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk menetapkan besarnya hubungan antara variabel-variabel.
Variabel dalam rancangan korelasional ini ada yang disebut dengan variabel bebas ( variabel X) dan ada yang disebut dengan variabel terikat ( variabel Y). Ciri utama variabel X adalah muncul dahulu sebagai penyebab, sedangkan variabel Y muncul kemudian sebagai akibat. Dilihat dari arah hubungan, dikenal dua macam korelasi, korelasi positif dan korelasi negatif. Korelasi positif apabila pertambahan dan atau penurunan harga X searah dengan Y, dan korelasi negatif apabila pertambahan dan penurunan harga X berlawanan arah dengan Y ( Sungkowo, 1994). Kepositifan hubungan tersebut ditandai oleh angka korelasi yang disebut dengan koefisien korelasi. Di antara rumus korelasi yang dapat dijadikan pijakan dalam menganalisis data adalah korelasi product moment dari person.[7]


Langkah dalam melaksanakan penelitian deskriptif
Penelitian dengan metode deskriptif mempunyai langkah penting seperti berikut:
1.      Mengidentifikasi adanya permasalahan yang signifikan untuk dipecahkan melalui metode deskriptif.
2.      Membatasi dan merumuskan permasalahan secara jelas.
3.      Menentukan tujuan dan manfaat penelitian.
4.      Melakukan studi pustaka yang berkaitan dengan permasalahan.
5.      Menentukan kerangka berpikir, dan pertanyaan penelitian dan atau hipotesis.
6.      Mendesain metode penelitian yang hendak digunakan termasuk dalam hal ini menentukan populasi, sampel, teknik smpling, menentukan instrument pengumpul data, dan menganalisis data.
7.      Mengumpulkan, mengorganisasi, dan menganalisis data dengan menggunakan teknik statistika yang relevan.
8.      Membuat laporan penelitian.[8]


C.    Rancangan Penelitian Kausal Komparatif
Penelitian dengan rancangan kausal komparatif bertujuan untuk mengungkapkan kemungkinan adanya hubungan sebab akibat antar variabel tanpa manipulasi suatu variabel. Penelitian dengan rancangan ini dilaksanakan dengan cara melakukan pengamatan terhadap variabel akibat terlebih dahulu baru kemudian melakukan penelusuran varibel-variabel yang diduga sebagai penyebabnya (Degeng, 1998).[9]
Metode penelitian yang erat dengan penelitian korelasi adalah penelitian causal comparative atau hubungan sebab akibat. Di dalam mengelompokan jenis penelitian ini, ada para ahli yang memasukan penelitian kausal komparatif sebagai penelitian deskriptif. Alasan yang mendasarinya adalah bahwa penelitian tersebut berusaha menggambarkan keadaan yang telah terjadi. Sementara itu ada pula peneliti yang memasukan penelitian kausala komparatif sebagai penelitian expostfacto (Ary dkk., 1985), denga alasan bahwa dalam penelitian itu, variabel juga telah terjadi dan peneliti tidak berusaha memanipulasi atau mengontrolnya. Pada penelitian kausal komparatif, variabel penyebab dan variabel yang dipengaruhi telah terjadi dan diselidiki lagi dengan cara merunut kembali.[10]

D.    Rancangan Penelitian Eksperimen
Rancangan eksperimen merupakan salah satu  rancangan penelitian yang bertujuan untuk mengungkapkan hubungan sebab- akibat antar variabel dengan melakukan manipulasi variabel bebas ( Degeng, 1998). Jadi dalam eksperimen, ada dua variabel yang perlu diperhatikan, yaitu varibel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dimanipulasi atau diubah oleh peneliti, sedangkan variabel terikat adalah suatu variabel sebagai akibat perubahan. Rancangan eksperimen ini bersifat validation atau menguji, yaitu menguji pengaruh satu atau lebih variabel terhadap variabel lain ( Sukmadinata, 2005). Menurut Nazir (1988), eksperimen berarti observasi di bawah kondisi buatan  ( artificial condition). Artinya, kondisi tersebut dibuat dan diatur oleh peneliti. Dengan demikian, penelitian eksperimen dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap objek penelitian serta adanya kontrol. Dibandingkan dengan rancangan korelasi, rancangan eksperimen ini merupakan rancangan penelitian yang memberikan pengujian hipotesis yang paling ketat dan cermat (Ibnu, et all, 2003). Dalam penelitian eksperimen ini, subjek dikelompokkan menjadi dua, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol ( Ubaidat, et all, 1987).
Kelompok eksperimen adalah kelompok yang dikenai perlakuan tertentu, sedangkan kelompok kontrol adalah kelompok yang tidak dikenai perlakuan. Misalnya, apabila kita ingin mengetahui pengaruh penggunaan pendekatan komunikatif terhadap kemampuan berbicara siswa SMU, maka siswa yang dijadikan sampel penelitian yang dikelompokkan menjadi dua. Kelompok pertama diberi pembelajaran bahasa Arab dengan pendekatan komunikatif ( diberi perlakuan) dan kelompok ini disebut sebagai kelompok eksperimen. Kelompok kedua diberi pembelajaran bahasaArab dengan pendekatan non-komunikatif ( pendekatan tradisional/ tatabahasa/ terjemah) dan kelompok kedua ini disebut kelompok kontrol. Setelah beberapa bulan, kedua kelompok ini dites kemampuan berbicaranya. Hasil dari tes kedua kelompok tersebut dapat diketahhui apakah siswa yang diberi pelajaran dengan pendekatan komunikatif ini kemampuan berbicaranya lebih baik ( secara signifikan) daripada siswa yang diajar dengan pendekatan tradisional atau sebaliknya. Menurut Ary, et all. (1979), ada tiga ciri utama dalam rancangan eksperimen, sebagai berikut:
a.       Suatu variabel bebas dimanipulasi.
b.      Semua variabel lainnya, kecuali variabel bebas dipertahankan tetap.
c.       Pengaruh manipulasi variabel bebas terhadap variabel terikat diamati.

Jenis Rancangan Eksperimen
Yaitu eksperimen absolut/ eksperimen sungguhan ( true experimental), dan eksperimen semu ( quasi experimental) ( Nazir, 1988). Ibnu, et all. (2003) mengemukakan jenis rancangan eksperimen, yaitu rancangan pra- eksperimen, eksperimen semu, dan eksperimen sungguhan.
1). Rancangan pra-eksperimen digunakan untuk mengungkapkan hubungan sebab-akibat hanya dengan cara melibatkan satu kelompok subjek sehingga tidak ada kontrol yang tetap terhadap variabel ekstra.
2). Rancangan eksperimen murni ( true experimental) merupakan suatu rancangan eksperimen yang mengikuti prosedur dan memenuhi syarat-syarat eksperimen. Prosedur dan syarat-syarat yang dimaksud terutama berkenaan dengan pengontrolan variabel, ada kelompok kontrol, pemberian perlakuan atau manipulasi kegiatan, dan pengujian hasil ( Sukmadinata, 2005). Menurut Ibnu et all. 2003, ada beberapa jenis rancangan penelitian yang dapat dimasukkan ke dalam kelompok ini, yaitu:
·         Pascates dengan kelompok eksperimen dan kontrol yang diacak.
·         Prates dan pascates dengan kelompok eksperimen dan kontrol yang diacak.
·         Gabungan keduanya ( rancangan solomon).
3). Rancangan Eksperimen Semu ( Quasi experimental designs) merupakan salah satu bentuk rancangan eksperimen yang dimaksud untuk mengungkapkan hubungan sebab-akibat dengan cara melibatkan kelompok kontrol di samping kelompok eksperimen ( Ibnu, et all. 2003). Dibandingkan dengan kelompok pra-eksperimen, rancangan ini lebih tepat dan cermat dalam mendeskripsikan hubungan sebab- akibat. Menurut Sukmadinata (2005), rancangan ini tidak jauh berbeda dengan rancangan eksperimen murni, karena keduanya memiliki kelompok kontrol dan eksperimen. Akan tetapi, ada perbedaan dalam hal pengendalian variabel. Apabila dalam rancangan eksperimen murni semua variabel yang mempengaruhi dapat dikendalikan, tetapi dalam rancangan eksperimen semu ini hanya satu variabel saja yang dapat dikontrol, yakni variabel yang paling dominan.[11]




[1] Sumardi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2010),  h. 73
[2] Moh. Ainin, Metodologi Penelitian Bahasa Arab, (Malang: Hilal Pustaka, 2010), Cet ke-2, h. 68-69

[3] Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan,(Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2011), h. 205
[4] Moh. Ainin. Op.Cit., h. 70
[5] Sukardi, Op.cit., h. 205

[6] Sukardi. Op.Cit., h. 157
[7] Moh. Ainin. Op.Cit., h. 71-72
[8] Sukardi. Op.Cit., h. 158-159
[9] Moh. Ainin. Op.Cit., h. 81-82
[10] Sukardi. Op.Cit., h. 171
[11] Moh. Ainin. Op.Cit., h. 87-92


DAFTAR PUSTAKA

Ainin, Moh. 2010. Metodologi Penelitian Bahasa Arab. Malang: Hilal.

Sukardi. 2011. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Suryabrata, Sumardi. 2010. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.








Problematika Metodologi Islam atau Penelitian Agama Islam Problematika Metodologi Islam atau Penelitian Agama Islam



I.    Topik                   : Problematika Metodologi Islam atau Penelitian Agama Islam


II.   Sub topik             : 3. Langkah-langkah atau Desain Penelitian Agama Islam

3.1. Pengertian Penelitian
3.2. Pengertian Agama
3.3. Penelitian Agama
3.4. Langkah-langkah penelititan dan contohnya
            3.5. Pengertian Desain Penelitian
3.6. Desain Penelitian Agama
3.7. Langkah-langkah atau Desain Penelitian Agama        Islam
3.8. Dalil Al-Quran yang Berkaitan dengan Penelitian

III. Pembahasan


VI. Referensi

Abdullah, M Amin, Studi Agama; Norativitas atau Historisitas?, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999
Ali, A. Mukti, Beberapa Persoalan Agama Dewasa Ini, Jakarta: Rajawali Press,1987
Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi, Bandung: Mizan, 1998
Hakim, Rosniati, Metodologi Studi Islam II, Padang: Hayfa Press, 2009
Mudzhar, M. Atha, Pendekatan Studi Islam; Dalam Teori Dan Praktek, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998
Mujtahid, Memahami Pendekatan Studi Agama (Islam), dalam Jurnal el-Hikmah, Volume IV, No. 1 Juli 2006.
Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam, Jakarta: PT Grafindo Persada,1998
Woodward, Mark W, Jalan Baru Islam Memetakan Paradigma Mutakhir Islam Indonesia. Bandung: Mizan, 1998
Martin, Richard C., Approaches to Islam in Religious Studies. diterjemah oleh Zakiyuddin Baidhawy, Pendekatan kajian Islam dalam Studi Agama, Surakarta: UMS Press, 2001
Hasan Iqbal. Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Bogor : Ghalia Indonesia, 2002




3. LANGKAH-LANGKAH ATAU DESAIN PENELITIAN AGAMA ISLAM
Agama dan kehidupan beragama merupakan fenomena yang tak terlepaskan dari kehidupan dan perjalanan sejarah kehidupan manusia. Setidaknya ada lebih dari 5 agama besar berbeda yang yang mempunyai penganut di seluruh dunia. Agama-agama ini tumbuh dan berkembang sebagaimana yang disampaikan oleh penganutnya secara turun temurun. Walaupun secara garis besar agama-agama ini mempunyai aspek-aspek yang sama. Sistem keimanan, ritual, norma, namun sifat dan detailnya tentu berbeda. Ada yang inklusif pluralis ada pula yang eksklusif, ada yang missionary ada pula yang non-missionary. Penelitian agama perlu dilakukan untuk mengetahui fenomena agama dalam kehidupan dan mengetahui perbedaan antar agama agar bisa menentukan sikap yang seharusnya diambil oleh penganut agama masing-masing.

3.1. Pengertian Penelitian
 Penelitian berasal dari kata teliti, dalam Kamus Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta berarti cermat atau seksama. Penelitian sama artinya dengan penyelidikan atau pemeriksaan yang dilakukan secara teliti. Dalam ilmu pengetahuan penelitian bisa kita artikan sebagai upaya menemukan jawaban yang bisa dipertanggungjawabkan atas sejumlah masalah berdasarkan data-data yang terkumpul melalui prosedur-prosedur ilmiah; sistematis, terkontrol, bersifat empiris dan kritis.
Penelitian (Research) adalah upaya sistematis dan objektif untuk mempelajari suatu masalah dan menemukan prinsip-prinsip umum. Selain itu, penelitian juga berarti upaya pengumpulan informasi yang bertujuan untuk menambah pengetahuan. Pengetahuan manusia tumbuh dan berkembang berdasarkan kajian-kajian sehingga terdapat penemuan-penemuan, sehingga ia siap merevisi pengetahuan-pengetahuan masa lalu melalui penemuan-penemuan baru.[1]
3.2. Pengertian Agama
            
Definisi agama yang diberikan oleh para ilmuwan berbeda-beda. Ini mungkin karena adanya pengaruh dari agama yang dianut oleh para ilmuwan tersebut. Setidaknya kita akan kemukakan beberapa definisi agama menurut ilmuwan-ilmuwan berikut:
· Kepercayaan terhadap kekuatan gaib. (E.B. Taylor)
· Perasaan dan pengamalan seseorang yang menganggap bahwa mereka behubungan dengan apa yang dipandangnya sebagai tuhan. (James)
· Suatu ketundukan kepada kekuatan yang lebih tinggi daripada manusia yang dipercaya mengatur dan mengendalikan jalannya alam dan kehidupan manusia. (J.G. Frazer)
· Ikatan yang harus dipatuhi manusia yang berasal dari kekuatan yang lebih tinggi dari manusia. (Harun Nasution)
· Suatu peraturan tuhan yang mendorong jiwa seseorang yang berakal untuk memegang peraturan tuhan itu atas pilihannya sendiri untuk mencapai kebaikan hidup dan kebahagiaan kelak di akhirat. (Taib Tahir abdul mu’in)

3.3. Penelitian Agama
              
Dari definisi-definisi di atas dapat kita ambil beberapa aspek pokok yang terkandung dalam agama. Pertama, sistem credo (keimanan) terhadapap kekuatan gaib di luar kemampuan manusia, kedua, sistem ritus (peribadatan) terhadap apa yang dianggapnya tuhan, ketiga, sistem norma (aturan) yang mengatur hubungan antar manusia dan alam.
Melihat dari asal usulnya, menurut klasifikasi Hegel, filosof Jerman, agama dapt kita bagi 3, yaitu:
3.3.1. Agama individual, yaitu agama yang timbul karena dorongan hati manusia yang dihasilkan oleh pemikiran seseorang sebagai realisasi dorongan hati nurani.
3.3.2 Agama alamiah, yaitu agama yang timbul dari perasaan takut terhadap kekuasaan alam yang kadang-kadang membahayakan keselamatan manusia.
3.3.3 Agama absolut, yaitu agama yang mempunyai doktrin ajaran yang tidak dapat diganggu/diubah oleh manusia karena dia turun dari tuhan dalam bentuk wahyu.

Kelompok 1 & 2 disebut juga sebagai agama ardhi atau non-revealed (non-wahyu) sedang kelompok 3 disebut sebagai agama samawi atau revealed (wahyu). Penelitian agama dapat dilakukan secara penuh pada agama non-wahyu, baik ajaran, doktrin dan pengamalannya karena dia merupakan produk budaya. Sedangkan pada agama wahyu penelitian dapat dilakukan pada sisi pengamalan agama atau prakteknya saja, sementara doktrin dan ajarannya tidak dapat ”diteliti” karena sudah merupakan hukum Tuhan yang mutlak benar.
Penelitian bisa dilakukan dari berbagai sudut pandang karenanya dia bisa mempunyai bermacam bentuk. Berikut ini adalah beberapa bentuk penelitian:

· Dilihat dari segi hasil yang ingin dicapai, penelitian dapat dibagi menjadi:
1. Exploratory atau descriptive (menjelajah) = Pengetahuan mengenai persoalan masih kurang atau belum ada sama sekali.
2. Explanatory (menjelaskan) = Sudah ada teori yang menjadi dasar hipotesa (kesimpulan sementara)

· Dilihat dari bahan atau obyeknya
1. Library research (kepustakaan) = menggunakan bahan tertulis. manuskrip, buku, majalah dll.
2. Field research (riset lapangan) = informasi diperoleh dari sasaran penelitian. wawancara, angket, observasi dll.

· Dilihat dari cara menganalisa
1. Qualitative = dilakukan pada objek penelitian yang bersifat sosiologis
2. Quantitative = dilakukan pada objek yang bersifat fisik dan dapat dihitung jumlahnya.

· Dilihat dari metode dasar dan rancangan penelitian
1. Historis = Membuat rekonstruksi masa lampau
2. Penelitian kasus dan lapangan = Mempelajari secara intensif latar belakang keadaan sekarang.
3. Correlational research = mendeteksi sejauh mana satu faktor berkaitan dengan satu atau lebih faktor lain.
4. Causal comperative = Menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat dengan cara pengamatan pada akibat yang ada kemudian mencari kembali faktor yang mungkin jadi penyebab melalui data tertentu.
5. Experimental sungguhan = menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat dengan cara mengenakan pada satu atau lebih kelompok eksperimental kemudian dibandingkan dengan kelompok yang tidak dikenai perlakuan.
6. Penelitian tindakan = mengembangkan keterampilan baru untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di dunia aktual.
7. Survei =Pengumpulan informasi dari beberapa sampel yang mewakili secara keseluruhan.
8. Grounded research = Pendekatan kualitatif bertolak dari data yang dikumpulkan dengan menggunakan wawancara bebas.

3.4. Langkah-langkah penelitian
3.4.1 Pemilihan Tema, Topik dan Judul Penelitian
Tema Penelitian diperlukan untuk mengarahkan ruang lingkup dan bidang telaah yang akan dipelajari oleh peneliti (berkaitan dengan bidang ilmu). Topik Penelitian berkaitan dengan garis pembahasan (bersifat spesifik). Dasar Pemilihan Tema dan Topik Penelitian:. Daya tarik bagi peneliti. Ada kemampuan untuk melaksanakan (keilmuan, sumber daya, dll). Data dapat diamati (termasuk tersedianya alat pengumpul data). Berkaitan dengan kebutuhan masyarakat (berkaitan dengan pemecahan masalah-masalah praktis). Judul Penelitian dimaksudkan untuk memperjelas dan mempertajam ruang lingkup dan bidang telaah dari tema dan topik penelitian.
Dalam membuat judul penelitian: Singkat, jelas dan logis. Tampak ruang lingkup dan metode pembahasannya. Tampak ruang lingkup obyek penelitiannya (populasi/sampel). Berkaitan dengan tema dan topik penelitian.contoh judul: Nikah Siri.

3.4.2 Identifikasi Kebutuhan Obyektif (Latar Belakang) Penelitian
                Memberikan deskripsi/gambaran mengenai hal-hal yang melatarbelakangi dilakukannya penelitian
                Dalam mendeskripsikan kebutuhan obyektif/latar belakang penelitian ini perlu dipaparkan:
                Fakta/kondisi/masalah yang ada atau terjadi saat ini
Apa arti pentingnya penelitian yang akan dilakukan
                Bagaimana kaitannya dengan tuntutan kebutuhan saat ini dan tuntutan perkembangan di masa yang akan datang
                Hal-hal strategis yang akan dicapai berkaitan dengan dilakukannya penelitian tersebut.
           
3.4.3 Identifikasi, Pemilihan dan Perumusan Masalah
Pengertian Masalah
               Suatu kesulitan yang dirasakan, konkrit dan memerlukan solusi
Suatu kesenjangan antara apa yang seharusnya dengan apa yang ada dalam kenyataan atau antara apa yang diperlukan dengan apa yang tersedia atau antara harapan dengan kenyataan dsb.
               Suatu masalah tidak harus menuntut/menimbulkan suatu penelitian tetapi penelitian dilakukan oleh karena adanya masalah. Jadi seseorang yang akan melakukan penelitian harus menentukan terlebih dulu: apa masalahnya?
Suatu masalah berbeda dengan fakta
Contoh:
Fakta => mengarah pada adanya kebutuhan obyektif/latar belakang.
Masalah => mengarah pada adanya upaya untuk pemecahan.
Suatu masalah ini membutuhkan penelitian untuk mencari solusinya
Identifikasi Masalah
              Upaya untuk melakukan pencarian dan pendataan masalah-masalah yang akan dibahas
Pecarian masalah dapat dilakukan dari sumber-sumber berikut:
1. Bacaan
2. Pengamatan Sepintas/Fakta di lapangan
3. Pengalaman Pribadi
4. Pertemuan ilmiah: Seminar, Diskusi, Lokakarya dll
5. Pernyataan Pemegang Otoritas
6. Perasaan Intuitif Pribadi
Pemilihan Masalah   
              Setelah masalah-masalah diidentifikasi, belum menjaminan bahwa semua masalah tersebut layak dan sesuai untuk diteliti. Sehingga perlu dipilih salah satu atau beberapa masalah yang paling baik dan layak untuk diteliti.
Pertimbangan pemilihan masalah ini dapat dilakukan dengan 2 arah:
Dari Arah Masalahnya, Pertimbangan kelayakan berdasarkan arah masalah atau sudut obyektifnya atau nilai penelitiannya. Apakah penelitian memberikan sumbangan kepada pengembangan dan penerapan IPTEKS atau pemecahan masalah praktis?
Dari Arah Penelitinya, Pertimbangan berdasarkan kelayakan dan kesesuaian penelitinya menyangkut kelayakan biaya, waktu, sarana, kemampuan keilmuan, dll.
Perumusan Masalah
             Masalah perlu dirumuskan dengan tujuan agar permasalahan jelas dan tidak menimbulkan keragu-raguan atau tafsir yang berbeda-beda sebab masalah tsb nantinya akan digunakan sebagai dasar pengajuan teori dan hipotesis, pengumpulan data, pemilihan metode analisis dan penarikan kesimpulan
Teknik merumuskan masalah:
            Dirumuskan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Singkat, jelas dan padat
Memberi petunjuk dimungkinkannya pengumpulan data dan adanya metode pemecahannya
Masalah Yang Baik. Mempunyai nilai dan kelayakan penelitian dari segi manfaat/kontribusi
Fisibel/dapat dipecahkan (konkrit), dimana ada data dan metode pemecahannya. Menarik bagi peneliti yang didukung kemampuan keilmuan. Spesifik mengenai bidang tertentu (jelas ruang lingkup pembahasannya). Berguna untuk mengembangkan suatu teori.

3.5 Pengertian Desain Penelitian
Ada banyak defenisi mengenai desain penelitian, diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Desain penelitian adalah rencana dan struktur penyelidikan yang dibuat sedemikian rupa, sehingga dapat diperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam penelitian.
  2. Desain penelitian adalah cetak biru ( blue print ) terhadap pengumpulan, pengukuran dan penganalisisan data.
  3. Desain penelitian adalah kerangka kerja dalam suatu studi tertentu, guna mengumpulkanm mengukur dan melakukan analisis data sehingga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian.[2]
Jadi desain penelitian merupakan metodologi(cara) dan metode (alat) penelitian. Desain penelitian sosial agama dimaksudkan adalah rancangan, profil, prototype, pola, model, bentuk dan semacam “body of science” yang tepat digunakan dalam penelitian sosial-agama.[3]
Langkah selanjutnya mengenai desain metodologi, yakni cara bagaimana kita melakukan penelitian. Karena cara yang harus dijelaskan adalah bagaimana mengumpulkan data; dengan wawancara, angket atau yang lain, siapa dan berapa jumlah informasinya? Di mana mereka bertempat tinggal? dan seterusnya.

3.6. Desain Penelitian Agama
Sebagaimana gambaran sebelumnya, bahwa agama dapat dipandang dari gejala budaya dan gejala sosial, maka desain penelitian agama dapat dibedakan menjadi dua jenis pengamatan tersebut.
3.6.1 Desain Penelitian Agama Sebagai Gejala Budaya
 Pada umumnya lebih sederhana, karena penelitian agama-budaya sifatnya unik dan tidak memerlukan pembuktian keterulangan gejala di tempat lain. Sebuah penelitian sejarah tentang Bani Umayyah misalnya, diperlukan desain mengenai kejelasan pembahasan topik yang diteliti. Untuk membahas sebuah topik penelitian agama seperti ini, sedikitnya ada empat hal yang harus diperhatikan dan diperjelas.
3.6.1.1 Mengenai perumusan masalah
 Apa pertanyaan-pertanyaan pokok? Dalam penelitian pokoknya adalah faktor-faktor apa saja yang telah menyebabkan jatuhnya Bani Umayyah dan bangkitnya Bani Abasiyah
3.6.1.2 Mengenai Arti Pentingnya atau Tujuan
Kenapa ia mencari jawaban atas pertanyaan itu, apa kontribusinya?
3.6.1.3 Mengenai Metode Menjawab Pertanyaan Penelitian.
 Di antaranya sumber informasi yang diperlukan untuk menjawab, bagaimana memahami dan menganalisa informasi itu, kemudian bagimana mengkaitkannya menjadi satu penjelasan yang lebih bulat untuk menjawab persoalan penelitian tersebut.
3.6.1.4 Mengenai Sumber Literatur (Telaah Pustaka) Tentang        Masalah Yang Bersangkutan.
Peneliti dianjurkan terlebih dahulu membaca referensi yang berkaitan dengan teori jatuhnya Bani Umayyah sampai bangkitnya Bani Abasiyah secara mendalam. Dari keempat itu, merupakan desain sebuah penelitian, dalam hal ini agama sebagai gejala budaya yang mengambil topik sejarah Islam pada masa klasik.


3.6.2 Desain Penelitian Agama Sebagai Gejala Sosial
 Pokok persoalannya yang dihadapi pada hakikatnya sedikit lebih kompleks dan diperlukan sistematika yang lebih tinggi dibanding pada saat penelitian agama sebagai gejala budaya. Desain ini memang membutuhkan penjabaran yang lebih elaboratif dalam menjelaskan sebuah keterulangan yang diamati sebelum sampai pada akhir kesimpulan. Misalnya penelitian tentang “Pandangan Ulama Tentang Penggunaan Alat Kontrasepsi Spiral (IUD) dalam Program Keluarga Berencana (KB)”. Pertama, menjabarkan permasalahan yang diteliti, misalnya apa yang disebut pandangan. Kemudian apa indikasinya judul di atas dapat dikategorikan penelitian agama? Tentu penelitian ini adalah mempelajari pandangan ulama. Lalu, signifikansinya apa? Misalnya tentang pandangan ulama mengenai KB itu sangat penting untuk membangun pemahaman yang lengkap mengenai pandangan kelompok Islam terhadap penggunaan alat kontrasepsi spiral dalam keluarga berencana.
Langkah selanjutnya mengenai desain metodologi, yakni cara bagaimana kita melakukan penelitian. Karena cara yang harus dijelaskan adalah bagaimana mengumpulkan data; dengan wawancara, angket atau yang lain, siapa dan berapa jumlah informasinya? Di mana mereka bertempat tinggal? dan seterusnya.
Hal lain yang perlu disadari adalah cara pengukuran. Ini penting karena menyangkut masalah pandangan yang harus representatif mewakili semua ulama. Misalnya dia mengatakan pandangannya tentang penggunaan IUD dengan sangat setuju, setuju, kurang setuju, atau mungkin juga pandangan mengenai alat kontrasepsi secara keseluruhan. Bagaimana mengukur setuju atau tidaknya dengan cara jawaban ya/tidak, sangat setuju/tidak setuju dan sebagainya.
Kemudian dibuat indeks, guna memudahkan dalam melihat data yang terkumpul sebagai jawaban atas pertanyaan. Selain melihat data, juga melihat informasi dan bagian dari cara melakukan pengukuran. Maka yang menjadi alat ukur mengenai masalah ini adalah kedekatan pandangan satu sama lain.
Selanjutnya, menganalisis pandangan para ulama dari sekian jumlah yang dijadikan sampel dalam penelitian tersebut. Dalam analisa itu diperlukan sebuah proporsionalitas. Artinya keseimbangan jumlah laki-laki dan perempuan misalnya, segi umur; yang lebih muda dan lebih tua, dan sebagainya. Di samping itu, seorang peneliti sosial tidak harus puas berhenti sampai pada jawaban mereka. Maka ia harus mencari mengapa mereka mengatakan begitu; apa latar belakang pendidikannya, di mana ia belajar dan sebagainya. Hal ini menghindari sebuah kesimpulan yang tidak valid.
Melalui uraian tersebut, ada empat hal yang perlu digaris bawahi dalam satu desain penelitian. Pertama, rumusan masalahnya, termasuk di dalamnya operasionalisasi konsep dari masalah yang disebut dalam judul. Kedua, signifikansi atau pentingnya penelitian. Ketiga, bagaimana cara melakukan pengumpulan dan mengalisis data. Keempat, studi pustaka, yang berguna untuk mengetahui studi apa saja yang pernah dilakukan yang berbicara mengenai pandangan ulama mengenai KB. Begitu juga, studi-studi mengenai alat kontrasepsi yang lain sudah dilakukan orang. Semua itu, untuk mengetes apakah masih terdapat pengulangan atau tidak. Dengan demikian, peneliti membandingkan dengan penelitian terdahulu apa mungkin akan terjadi terulang kembali.

3.7. Langkah-langkah  atau Desain Penelitian Agama Islam
              Desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian.
3.7.1 Desain dalam merencanakan penelitian
Desain dalam perencanaan penelitian bertujuan untuk melaksanakan penelitian, sehingga dapat diperoleh suatu logika, baik dalam pengujian hipotesa maupun dalam membuat kesimpulan. Desain rencana penelitian yang baik akan dapat menterjemahkan model-model ilmiah ke dalam operasional penelitian secara praktis
3.7.2. Desain pelaksanaan penelitian
Meliputi proses membuat percobaan ataupun pengamatan serta memilih pengukuran-pengukuran variabel, memilih prosedur dan teknik sampling, alat-alat untuk mengumpulkan data kemudian membuat coding, editing dan memproses data yang dikumpulkan, termasuk juga proses analisa data serta membuat laporan.
3.7.3 Desain Sampel
Desain sampel yang akan digunakan dalam operasional penelitian amat tergantung dari pandangan efisiensi, yaitu :
a. Mendefinisikan populasi
b. Menentukan besarnya sampel
c. Menentukan sampel yang representati

3.7.4 Desain Alat ( Instrumen )
Yang dimaksud dengan alam disini adalah alat untuk mengumpulkan data. Desain terhadap alat untuk mengumpulkan data sangat menentukan dalam pengujian hipotesa. Alat yang digunakan dapat sangat berstruktur (check list dari kuesioner), kurang berstruktur (interview guide), ataupun suatu outline biasa di dalam mencatat pengamatan langsung.

3.7.5 Desain Analisa 
Dalam desain analisa, maka diperlukan alat-alat yang digunakan untuk membantu analisa. Penggunaan statistik yang tepat yang sesuai dengan keperluan analisa harus dipilih sebaik-baiknya.

             Dalil Al-Quran Mengenai Penelitian
            QS. Al-Haysr : 18
            $pkš‰r'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# ©!$# öÝàZtFø9ur Ó§øÿtR $¨B ôMtB£‰s% 7‰tóÏ9 ( (#qà)¨?$#ur ©!$# 4 ¨bÎ) ©!$# 7ŽÎ7yz $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ÇÊÑÈ 

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

            QS. Al-Hujarat : 6

$pkš‰r'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä bÎ) óOä.uä!%y` 7,Å™$sù :*t6t^Î/ (#þqãY¨t6tGsù br& (#qç7ŠÅÁè? $JBöqs% 7's#»ygpg¿2 (#qßsÎ6óÁçGsù 4’n?tã $tB óOçFù=yèsù tûüÏBω»tR ÇÏÈ  
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka perikasalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaanya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.

            QS. Maryam : 84

Ÿxsù ö@yf÷ès? öNÎgø‹n=tæ ( $yJ¯RÎ) ‘‰ãètR öNßgs9 #t‰tã ÇÑÍÈ  

“Maka janganlah kamu tergesa-gesa memintakan siska terhadap mereka, karena sesungguhnya Kami hanya menghitung datangnya (hari sisksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti”.


[1] Drs. Atang Abd. Hakim, MA, Dr. Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008, cet. Kesepuluh, h. 55
[2] Hasan Iqbal, Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, Bogor : Ghalia Indonesia, 2002, Cet Pertama, h. 31
[3] Lihat Imam Spuprayogo dan Tobroni, Metodologi penelitian Sosial-Agama, Bandung: Rosdakarya, 2001, h. 119