MENGARANG DENGAN ILHAM

Melihat, mengalami, merasakan dan membaca.
Menjadi SASTRAWAN

Kamis, 10 Mei 2012

Cerpen Tinta Darah Syahid


Oleh Methia Farina

Jiwa tidak akan pernah pergi
Hati takkan pernah berhenti berharap
Kuat menerpa harapan
Di batu rindukan hari
Salamkan pergi di titian rahmat-Nya

Jika dia memasuki Jalur Gaza, dia akan melewati daerah kosong antara dua pos pemeriksaan. Dia harus berjalan melewati daerah tidak bertuan antara dua pos pemeriksaan. Saat berjalan membelakangi pos tentara Israel terpikir apakah dia bisa kembali lagi masuk. Di tengah terik pun dia harus berjalan tidak peduli siapa dia. Barulah saat masuk ke pos perbatasan suasana lebih terasa dekat meski pemeriksaan tetap ketat. Jalur Gaza ini mendapat gempuran dari Israel. Daerah miskin dan sulit ini semakin menderita karena tekanan militer Israel. Jalur Gaza menjadi arena berbahaya. Ibunya telah melarang dia untuk tidak kesana.
Wajahnya tampak seperti berumur dua puluh tahun, lantunan musik jihad dan ayat-ayat Al-Quran selalu didendangkannya. Tangannya mengepal geram terhadap tentara Israel. Syahid Hakam namanya, dia adalah seorang anak berumur sepuluh tahun. Setiap pulang sekolah dia pergi ke tempat jihad, membantu ayahnya. Dia tidak takut dengan peluru tentara Israel, dia begitu berani.
Sebelum masuk waktu Ashar dia pulang ke rumah. Dia mengurusi urusan dapur, dia tidak pernah mengeluh walaupun dia anak ke empat dari tujuh bersaudara. Kakak-kakaknya telah pergi lebih dulu di medan jihad, hanya dia bersama tiga orang adiknya yang perempuan yang masih kecil.
“Ummi,[1] kenapa Abi[2] belum pulang? Biasanya jika terlambat, Abi selalu berpesan sebelum pergi atau Abi menitipkan pesan pada temannya.”
Kekahwatiran menyelimuti hati Syahid. Matanya terus memandang asap yang mengepul di luar sana, bunyi ledakan bom terdengar jelas di gubuknya.
“Tadi Abi berpesan pada ummi, Bahwa abi besok pulangnya.”
Walaupun umminya berkata demikian hatinya tidak juga tenang. Maafkan ummi anakku, ummi belum bisa memberitahumu sekarang, ayahmu telah syahid, Nak.

***
Keesokkan harinya Syahid masih terus memandang sudut kota yang berserakkan di seberang sana.
“Ummi aku harus ke sana, melihat keadaan Abi…!”
“Jangan anakku, Abi pasti baik-baik saja, sekarang Abi telah tenang.”
“Apa maksud Ummi? Syahid tidak mengerti.”
“Maafkan Ummi anakku. Ummi tidak jujur padamu, Ummi tidak ingin Syahid sedih, maafkan Ummi anakku”
“Ummi.”
Terlihat air matanya, dia tidak ingin menangis, bukanlah seorang pemuda yang tangguh jika dia menangis, tapi ini adalah lain. Hatinya tidak bisa terobati, kejamnya tentara Israel telah merenggut nyawa saudaranya dan juga Ayahnya. Ayahnya tempat dia belajar, bercerita, memanah dan berjihad. Sekarang telah bersatu dengan tanah dan para syuhada lainnya. Tidak dia temukan jasad ayahnya. Sejak kematian ayahnya, dia tidak lagi terlihat di sekolahnya, pengawasan dan kebrutalan tentara Israel semakin membabi buta. Para syuhada telah banyak yang gugur.
 Para ibu yang kehilangan suaminya, bukan tangisan air mata lagi yang menjadi kegusaran hati, tapi tangisan darah, darah telah tersebar di mana-mana. Tidak ada kota di Palestina yang tidak terhujani darah. Bahkan Jalur Gaza sekali pun, sepetak tanah yang tandus yang berada di ujung perbatasan Mesir. Dulu Jalur Gaza tempat ia dan keluarganya menetap, walaupun suasana perkampungan di sana kumuh dan rumah berdempetan, tidak seperti ibu kota yang lainnya dan di sana berupa perkampungan yang besar. Dulu kehidupannya sangat tentram dan damai. Tapi sekarang dia dan keluarganya  harus mengungsi.
 “Ummi aku tidak takut mati, meskipun seusiaku ini hanyalah pantas untuk belajar dan bermain, tapi tidak dengan aku, Ummi. Aku tidak takut dan gentar, aku seorang pemuda yang tangguh. Semangatku tidak akan mati meskipun jasad ayah tidak bersama kita lagi tetapi jiwanya selalu bersama semangatku. Ummi aku tidak mau diam dan terpaku di sini. Di luar sana adalah ladangku untuk menggarap setitik rahmat dan ridha Allah, ridha Allah terletak kepada ridha orang tua. Izinkanlah aku, Ummi, meskipun aku tidak pulang sore ini, akan ada pengganti aku, izinkanlah aku, Ummi.”
Bukan tetesan mata kepedihan di pipi ibunya, haru bercampur bahagia, mendengar perkataan anaknya yang baru berumur sepuluh tahun untuk berjihad.
“Kamu tidak sendirian anakku. Doa Ummi akan selalu menyertaimu.”
Syahid rangkul ummi. Syahid eratkan rangkulannya. Syahid cium aroma tubuh ummi yang berkeringat. Syahid dapati pada setiap bau ummi, aroma duka yang dalam. Syahid merasakannya ummi, Syahid tidak akan pernah melupakan aroma ummi. Syahid tahu ummi begitu berat melepaskan Syahid.
***
Batu-batu itu menjadi saksi perjuangan Syahid, sebongkah batu menemani Syahid. Meski Syahid dan teman-teman tidak mempunyai senjata yang canggih dan modern. Syahid punya senjata yang tidak bisa mereka kalahkan yaitu semangat untuk merebut kembali tanah kelahiranku, Jalur Gaza. Syafar adalah teman Syahid.  Syahid dan Syafar, ikut bergabung dengan pasukan Hamas. Syahid tidak tahu bagaimana caranya berperang atau pun membunuh, dan Syahid pun tidak ingin membunuh. Syahid sangat ingin menikmati belajar seperti dulu, tapi itu tidak mungkin lagi. Teman-teman Syahid telah banyak yang gugur. Hanya Syahid dan Syafar yang masih bertahan di sisa puing-puing batu.
“Ihdzar yaa  Syahid[3]…!”
Satu peluru tepat di kaki Syafar, pekikannya melengking, bocah berumur sebelas tahun itu merasa kesakitan di kakinya. Syahid tersungkur ke tanah. Syahid mendapati tubuh Syafar tergeletak di tanah tidak berdaya.
”Limadza ma laka tusallimuni?[4]” Teriak Syahid
“Lianna nazhartu nuura fi ‘ainaik, nuura fauzina.[5]
“Ishbir watsbit Syafar..! Lan ubiihahum liyasyrabuu damak,,,ishbir watsbit…![6]
Syahid memikul Syafar ke tempat yang lebih aman, darah mengalir di mana-mana. Larinya semakin kencang, bunyi ledakkan bom memekakkan telinganya, dia terus berlari. Tanpa dia sadari Syafar telah pergi.
“Syafar kamu harus bertahan, kita telah berjanji untuk bersama-sama tersenyum di penghujung kisah, aku tidak ingin sendirian, temani aku Syafar…Syafar…!” (Syahid menggoncang tubuh Syafar terasa dingin tangannya, dia menurunkan syafar dan menyandarkannya di depan batu besar).
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun.” Suara itu keluar dari mulut Syahid. Dia menundukkan kepalanya, sulit baginya menerima kenyataan ini. Orang-orang yang disayanginya, meninggalkannya disaat dia membutuhkannya.
“Teman-teman ku satu persatu telah kau lahap dengan tawamu, betapa keringnya otakmu tuan. Kau tidak punya mata, kau tidak punya hati, kau tidak punya telinga. Begitu miskinnya jiwamu bahkan lebih miskin dari orang yang kelaparan. Wahai tuan tidakkah kau sadar, siapa yang engkau tembak. Nanti dia akan meminta nyawamu, lebih dahsyat dari ini.”
***
Matanya yang jernih memandang merahnya langit. Kerikil digenggamnya, matanya tajam memandang gumpalan asap hitam  di langit. Fikirannya berputar terpintas senyuman Syafar di matanya. Ayahnya juga ikut tersenyum dibayang-bayang awan merah.
Ketika matahari mulai menenggelamkan tubuhnya, Syahid juga ikut menghilang. sakan pernah surut dan layu. Syahid harus bertahan meski tangan-tangan pelempar batu itu tidak lagi bersama Syahid, aku masih memiliki yaitu tangan-tanganku yang kuat.
“Wahai tuan yang berkuasa di tanah kami, biarkanlah kami hidup di sana. Mengapa tuan hancurkan tanah-tanah kami. Begitu remehkah pandangan tuan terhadap kami, walaupun tangan-tangan ini masih kecil. Ingatlah tuan suatu saat dan hari yang pasti kami akan mendapatkan hak kami kembali. Biarlah tuan dulu menikmati darah-darah segar kami, tapi ingat tuan hari itu pasti akan datang.”
***
Ummi….sudah empat tahun aku bertahan di puing-puing jihad, ummi aku bahagia, banyak teman-temanku yang mendukungku. Mereka berdoa untuk kita, kita tidak sendiri ummi. Mereka bangga denganku dan teman-temanku yang lainnya, walaupun mereka tidak berada di depan kita, tangan-tangannya selalu berdoa untuk kita. Semangat juang kita menjadi tonggak pergerakkan teman-temanku yang lainnya. Ummi, kutulis catatan kecil ini untukmu, sebagai tanda aku rindu padamu. Aku rindu disaat engkau usap rambutku, di saat engkau hapus air mataku, dan engkau pun heran disaat aku menitikkan air mata untuk Abi. Kapan kita bertemu kembali? Aku tidak berdaya ingin bertemu denganmu ummi. Biarlah ummi kusimpan dengan rapi rindu ini. Ketika aku mulai goyah, pesanmu selalu menguatkanku. Engkau mengatakan kalimat terakhir disaat kita di ujung pertemuan. Alam indah menantimu wahai pejuang daiman bilhamasah ![7]
 Kata-kata itu selalu kuingat ummi, sampai ujung rambut dan penghabisan darahku akan aku perjuangkan  negeri tercinta ini. Ummi di saat bahaya tepat di posisiku, terlintas di benakku senyum Abi, dan di saat itu pula Syafar menyelamatkanku dari serangan tentara Israel. Aku heran Ummi, kenapa di setiap aku hendak mendapatkan serangan, wajah Abi selalu terlintas di mataku. Aku yakin ummi juga heran. Karena peristiwa tersebut, aku tidak merasa sepi lagi, aku merasa Abi selalu berada di sampingku. Tapi hari ini ummi senyum abi tidak lagi kutemukan.
Ummi jari-jariku tidak sanggup lagi menulis, aku merasa tanganku mulai kaku, maafkan anakmu ummi, aku tidak bisa menepati janjiku dan aku  tidak bisa pulang sore ini. Tinta darah telah kuhabiskan menulis surat cintaku untukmu. Ketika engkau buka baju putih ini. Semua tulisannya adalah darah, ini bukti cintaku untuk agamaku, negeriku dan untukmu, Ummi.***Padang, 2010
*Cerpen ini kupersembahkan untuk saudaraku di Palestina, tetap semangat. Sungguh syurga telah menantimu para syuhada.


[1] Panggilan ibu untuk orang Arab
[2] Panggilan ayah untuk orang Arab
[3] Syahid awas….!
[4] Kenapa kamu menyelamatkanku?
[5] Aku melihat cahaya dimatamu,  Cahaya kemenangan kita.
[6] Kamu harus bertahan Syafar..! Aku tidak akan membiarkan mereka meminum darahmu, kamu harus bertahan!
[7] Selalu semangat !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar