MENGARANG DENGAN ILHAM

Melihat, mengalami, merasakan dan membaca.
Menjadi SASTRAWAN

Kamis, 07 Juni 2012

PROBLEMATIKA SAUTIYAH DAN KITABIYAH DALAM PENGAJARAN BAHASA ARAB DAN SOLUSINYA



A.                 Beberapa Kesulitan Pengucapan Bunyi
Sebenarnya pengajaran bahasa Arab di Indonesia sudah berlangsung berabad-abad lamanya, akan tetapi aspek tata bunyi sebagai dasar untuk mencapai kemahiran menyimak dan berbicara kurang mendapat perhatian. Hal ini karena:
1)     Tujuan pengajaran bahasa Arab hanya diarahkan agar pelajar mampu berbahasa Arab.
2)     Pengertian hakekat bahasa lebih banyak didasarkan atas dasar Metode Gramatika-Terjemah, yaitu suatu metode mengajar bahasa yang banyak menekankan kegiatan belajar pada penghafalan kaidah-kaidah tatabahasa dan penerjemahan kata demi kata.[1]
Para  pembelajar  non-Arab  yang  belajar  bahasa  Arab kemungkinan  mereka  akan menghadapi  beberapa  kesulitan yang  berkaitan  dengan  pengucapan.  Kesulitan-kesulitan tersebut muncul pada masalah-masalah Sebagai berikut :
1.  Pembelajar  kadang-kadang  sulit  mengucapkan  sebagian bunyi yang tidak terdapat pada bahasa ibunya.
2.  Pembelajar  kadang-kadang  mendengar  sebagian  bunyi yang  dikiranya  bunyi  tersebut  seperti  yang  terdapat pada  bahasa  ibunya.  Padahal  dalam  kenyataannya berbeda.
3.  Pembelajar  kadang-kadang  salah  dalam  menangkap  bunyi yang disimaknya. Dia mengucapkan bunyi sesuai dengan yang  disimaknya.  Kesalahan  dalam  menyimak  tersebut dapat mengakibatkan kesalahan pengucapan.
4.  Pembelajar  kadang-kadang  salah  dalam  menangkap beberapa  perbedaan  penting  diantara  beberapa  huruf Arab.  Dia  mengira  bahwa  perbedaan  tersebut  tidak penting seperti yang berlaku pada bahasa ibunya.
5.  Pembelajar  kadang-kadang  menambahkan  beberapa  bunyi asing yang mereka ambil dari bahasa ibunya. Pembelajar Amerika kadang-kadang memasukkan bunyi-bunyi P atau V  kepada  bahasa  Arab.  Kedua  huruf  tersebut  memang dikenal dalam bahasa mereka.
6. Pembelajar  kadang-kadang  juga  mengucapkan  bunyi bahasa  Arab  sebagaimana  dia  mengucapkan  bahasa ibunya,  yaitu  tidak  seperti  ucapan  orang  Arab  asli. Pembelajar  Amerika  kadang-kadang  mengucapkan ت dengan latsawy sebagai ganti dari asnany. 
7. Pembelajar kadang-kadang sulit mengucapkan bunyi suatu huruf  Arab  karena  pertimbangan  norma-norma masyarakat. Sebagian masyarakat ada yang menganggap bahwa  mengeluarkan  lidah  dari  mulut  merupakan tindakan  tercela.  Dengan  norma  tersebut  pembelajar akan merasa kesulitan dalam mengucapkan huruf-huruf: ذ dan  ث
8. Bagi pembelajar tertentu kadang-kadang merasa kesulitan dalam  mengucapkan  bunyi-bunyi  yang  sama  antara bahasa  Arab  dengan  bahasa  ibunya.  Kesulitan  tersebut timbul karena perbedaan tempat pengucapannya. Orang Inggris  tidak  pernah  mengucapkan  bunyi  /  /  pada akhir  kata  dalam  bahasa  ibunya.  Mereka mengucapkannya  pada  awal  kata  atau  tengahnya. Dengan  demikian  pengucapan  bunyi  /   /  pada  akhir kata  dapat  menyulitkan  para  pembelajar  Inggris  dan Amerika.
9. Bunyi-bunyi yang dianggap sulit oleh para pembelajar non Arab  adalah: ط ، ض ، ص ، ظ .  Huruf-huruf  tersebut merupakan  huruf  mufakhkhamah,  mutabbaqah,  dan muhallaqah.  Demikian  juga  pembelajar  kadang-kadang sulit  membedakan  huruf-huruf:   ط dan تض  dan د ,   صdan  سذ dan ظ .
10.  Bunyi-bunyi  yang  dianggap  sulit  oleh  para  pembelajar non  Arab  adalah  خ  dan غ .  Bahkan  huruf-huruf  tersebut sulit bagi anak-anak Arab sendiri.
11.  Demikian  juga  kadang-kadang  terasa  sulit  bagi pembelajar  non  Arab  dalam  membedakan dan ح ;   أdan عك dan ق .
12.  Pembelajar  non  Arab  juga  merasa  kesulitan  dalam membedakan hamzah dengan fathah pendek.
13.  Pembelajar  kadang-kadang  merasa  kesulitan  dalam menangkap  perbedaan  antara  fathah  pendek  dengan fathah panjang. Seperti:  سَمَرَ dan سَامَرَ .
14.  Pembelajar  kadang-kadang  juga  merasa  kesulitan  dalam membedakan antara dhammah pendek dengan dhammah panjang. Seperti: قُتِلَ  dan قُوْتِلَ .
15.  Pembelajar  kadang-kadang  merasa  kesulitan  dalam membedakan  kasrah  pendek  dengan  kasrah  panjang. Contoh:  زر dan زير .
16.  Pembelajar  non  Arab  kadang-kadang  merasa  kesulitan dalam  mengucapkan    yang  diulang.  Dia  kadang-kadang mengucapkannya  dengan  berlawanan,  seperti  yang diucapkan  oleh  pembelajar  Amerika.  Atau  juga  tidak mengucapkannya  apabila  terletak  di  akhir  kata  seperti yang dilakukan oleh pembelajar Inggris.
Intonasi dalam Bahasa Arab
            Dalam  bahasa  Arab  dikenal  tiga  tingkat  intonasi yaitu:
1. intonasi pokok: intonasi ini mempunyai lambang fonetik/  َ/
2. intonasi skunder: intonasi ini mempunyai lambang fonetik/ ^ /
3. intonasi lemah: intonasi ini mempunyai lambang fonetik/ /
Intonasi  dalam  bahasa  Arab  mungkin  bisa  diprediksi jika  klasifikasinya  didasarkan  atas  aturan-aturan  tertentu sebagai berikut :
1.  Apabila  suatu  kata  terdiri  dari  satu  suku  kata  maka  inti dari  suku  kata  tersebut  dijadikan  sebagai  intonasi  
2. Apabila suatu kata terdiri dari dua suku kata pendek atau tiga  suku  kata  pendek  maka  suku  kata  pertama dijadikan  sebagai  intonasi  pokok  dan  suku  kata-suku kata sisanya sebagai intonasi yang lemah. Contoh  جلس: درس
 3.  Apabila  suatu  kata  terdiri  dari  dua  atau  tiga  suku  kata yang  panjang  maka  intonasi  pokok  ada  pada  suku  kata terakhir  dan  untuk  suku  kata-suku  kata  lainnya digunakan intonasi sekunder.Contoh طاووس ناسون .
4.  Apabila  suatu  kata  mempunyai  dua  atau  tiga  suku  kata maka intonasi pokoknya terletak pada suku kata terakhir yang  panjang.  Dan  intonasi  skunder  untuk  suku  kata-suku  kata  sisanya  apabila  panjang.  Sedang  apabila  suku kata-suku  kata  tersebut  pendek  digunakan  intonasi lemah. Contoh : كاتب، كتاب، نائم، صائم، صيام، صائمون .
5.  Apabila  suatu  kata  terdiri  dari  empat  suku  kata  intonasi pokok  terletak  pada  suku  kata  kedua.  Kecuali  apabila suku  kata  ketiga  atau  keempatnya  panjang.  Contoh : .
6.   Apabila  suatu  kata  terdiri  dari  lima  suku  kata  intonasi pokok  terletak  pada  suku  kata  ketiga.  Kecuali  apabila suku  kata  keempat  dan  kelimanya  panjang.  Contoh  : مدرستنا، كتابتنا، بنايتنا.
7.   Apabila  suatu kata  terdiri dari  enam suku  kata atau  lebih intonasi pokok terletak pada suku kata terakhir. Contoh : استقبالاتن .
Perlu  diketahui  bahwa  pengucapan  intonasi  yang benar  sangat  penting  sebagaimana pentingnya  pengucapan bunyi-bunyi  huruf  dengan  cara  yang  benar.  Kesulitan-kesulitan  yang  biasa  dialami  oleh  para  pembelajar  non-Arab adalah :
1.   Pembelajar  kadang-kadang  menempatkan  intonasi  pokok bukan pada suku kata yang benar.
2.   Pada  kesalahan  penempatan  intonasi  sering  muncul  juga gejala pemanjangan vokal pendek. Seperti kata “  صام “ diucapkan seakan-akan  “ صاما ”. Kesalahan pengucapan tersebut dapat mengakibatkan kesalahan makna.
3.  Pembelajar  kadang-kadang  memberikan  intonasi  pokok lebih  dari  satu  pada  satu  kata.  Hal  ini  berbeda  dengan aturan  pengucapan  intonasi  bahasa  Arab  yang  hanya pada satu suku kata.
4.  Pembelajar  kadang-kadang  menggunakan  sistem  intonasi yang  berlaku  dalam  bahasa  ibunya  dalam  mengucapkan bahasa Arab.

T ransfer Pengaruh Belajar
Ketika  pembelajar  berhadapan  dengan  bahasa  Arab dia  mulai  mempelajarinya  setelah ia  mempunyai  kebiasaan-kebiasaan  berbahasa  yang  diperolehnya  ketika  dia  belajar bahasa ibu. Kebiasaan-kebiasaan pembelajar pada bahasa ibu mempunyai dua sisi yang berbeda :
1.  Sebagian  kebiasaan  berbahasa  pada  bahasa  ibu  dapat membantu pembelajar dalam mempelajari bahasa Arab. Hal  ini  apabila  terdapat  persamaan  antara  bahasa  ibu dan  bahasa  Arab.  Apabila  pada  bahasa  ibu  terdapat bunyi  huruf  yang  sama  dengan  bahasa  Arab  dalam makhrajnya  maka  hal  ini  merupakan  faktor  pendukung baginya  dalam  mempelajari  bahasa  Arab.  Berpindahnya pengaruh  belajar  ini  dapat  memudahkannya  dalam mempelajari keterampilan baru.
2.  Sebagian  kebiasaan-kebiasaan  berbahasa  dapat mengganggu  dalam  mempelajari  bahasa  Arab.  Hal  ini terjadi  apabila  terdapat  perbedaan  antara  sistem  tata bunyi pada bahasa ibu  dengan sistem tata bunyi  bahasa Arab. Bunyi-bunyi pada bahasa ibu kadang-kadang masuk ketika  pembelajar  mengucapkan  bahasa  Arab. Pembelajar  kadang-kadang  mengalami  kesulitan  ketika mengucapkan  huruf  Arab  yang  tidak  terdapat  pada bahasa  ibunya.  Pengaruh  bahasa  ibu  di  sini  merupakan pengaruh  negatif  bagi  pembelajar  dalam  mempelajari bahasa Arab.
 Perbedaan fonetik dan fonemik
Tidak diragukan lagi bahwa pembelajar pertama akan merasa  kesulitan  dalam  mengucapkan  bahasa  Arab sebagaimana  penutur  aslinya.  Seandainya  dia  berusaha secara sungguh-sungguh dan mampu mengucapkannya secara baik dia akan tetap kelihatan sebagai penutur bahasa kedua. Pengucapan kosa katanya akan berbeda dengan penutur Arab asli.  Apakah  guru  membiarkan  kedaan  ini  atau  dia  mesti meminta  pembelajar  untuk  menuturkannya  seperti  penutur asli secara sempurna. 
B.      Solusi dari kesulitan Shautiyah
Beberapa solusi dari kesulitan-kesulitan tersebut adalah:
1.  Pembelajar  berlatih  membedakan  bunyi-bunyi  yang berdekatan dan yang berlawanan.
2. Melihat  perbedaan  tsunaiyyah- sughra  yang  terbatas  pada satu  suku  kata  memungkinkan  bagi  pembelajar  untuk memfokuskan  hanya  pada  perbedaan  antara  dua  bunyi saja dalam setiap tsunaiyyah, yaitu ketika dia menyimak dan mengucapkannya.
3. Pembelajar  mempunyai  bukti  contoh  nyata  bagaimana pengaruh perbedaan kedua bunyi tersebut pada makna.
4.  Latihan Pengucapan
Seandainya  guru  melihat  bahwa  pembelajar  tidak membedakan pengucapan  antara dua  bunyi,  guru  harus  membantu  mereka  dalam menghilangkan  masalah  tersebut.  Langkah-langkah  yang dapat dilakukan guru dalam mengatasi hal tersebut:
1.  Guru  hanya  membatasi  dua  bunyi  untuk  diberi  syakal kepada para pembelajarnya.
2.  Guru  memilih  sejumlah  tsunaiyahtus  shughra  yang  cukup, di  mana  kedua  bunyi  tersebut  berhadapan.  Bunyi-bunyi yang  berbeda  tersebut  sebaiknya  letaknya  di  awal, tengah, dan akhir.
3. Latihan  pengucapan  dimulai  oleh  guru  dengan mengucapkan  kata-kata  tertentu,  sementara  para pembelajar  menyimaknya.  Setelah  itu  para  pembelajarmengulanginya dengan cara keseluruhan, per kelompok, atau per orang.
4.  Guru  mencampurkan  kata-kata  pada  sebuah  kalimat  atau mirip  kalimat  dan  memberi  contoh  pengucapannya. Setelah itu para pembelajar mengulanginya dengan cara keseluruhan, per kelompok, atau per orang.
5. Pengulangan
Dalam  latihan  pengucapan  yang  memerlukan pengulangan guru dapat mengikuti langkah-     langkah sbb:
1.  Guru mengucapkan contoh bacaan yang diminta  sebanyak dua  atau  tiga  kali;  sementara    para  pembelajar menyimaknya.
2.  Guru  memberi  isyarat  kepada  para  pembelajar  untuk mengulanginya secara bersama-sama.
3. Guru memberi isyarat yang sama apabila para pembelajar masih perlu mengulanginya secara bersama-sama.
4. Guru  memberi  isyarat  kepada  para  pembelajar  untuk mengulangi bacaan secara per kelompok.
5.  Guru  memberi  isyarat  yang  sama  agar  para  pembelajar kembali mengulangi bacaan secara per kelompok.
6.  Guru  memberi  isyarat  kepada  para  pembelajar  untuk mengulangi bacaan secara per orang.
7.  Ketika  pengulangan  bacaan  per  orang  berlangsung,  guru mendengarkan  respon  pembelajar  dan  mengoreksinya apabila diperlukan.  Guru  mendorong  mereka yang  perlu didorong dan memuji mereka yang perlu dipuji.
 6.Isyarat T angan
        Ketika  latihan  berlangsung  isyarat  tangan  dari  guru sangatlah  bermanfaat.  Seorang  guru mungkin  mempunyai beberapa  isyarat  khusus  yang  telah  disepakatinya  bersama para pembelajar. Pada umumnya guru memerlukan beberapa isyarat sbb :
1.  Isyarat  permulaan  Tikrarul-jami  (pengulangan  secara keseluruhan).  Cara  ini  dilakukan  dengan membentangkan tangan kemudian mengedarkannya dari satu ujung kelas ke ujung lainnya.
2.  Isyarat  permulaan  Tikrarul-fiawy  (pengulangan  secara  per kelompok).  Cara  ini  dilakukan  dengan  memberikan isyarat tangan kepada kelompok paling kanan, kemudian di sampingnya, dan seterusnya.
3.  Isyarat  permulaan  Tikrarul-fardy  (pengulangan  secara  per orangan).  Cara  ini  dilakukan  dengan  mengisyaratkan telunjuk  kepada  pembelajar  pertama  yang  duduk  di bangku  paling  kanan,  kemudian  di  sampingnya,  dan seterusnya.
4. Isyarat pengulangan berakhir. Guru  memerlukan  isyarat  untuk  menunjukkan  bahwa pengulangan  akan  berakhir.  Caranya  yaitu  dengan mengangkat telapak tangan ke arah para pembelajar.

C.      Kesulitan-kesulitan dalam  menulis
Menulis  merupakan  salah  satu  keterampilan berbahasa  baik  untuk  pengajaran  bahasa  pertama  maupun bahasa  kedua.  Dalam  prakteknya  guru  akan  banyak  menemukan  para pembelajar  melakukan  kesalahan-kesalahan  yang  beraneka ragam. Beberapa kesalahan dikte yang terpenting adalah sbb :
1.  Para  pembelajar  sulit  membedakan    beberapa  huruf seperti:[س،ز], [ك،ق]، [ق،غ]، [ح،]، [غ،خ], [ذ،ظ]   dan lain-lain.  Kesalahan  di  atas  dapat menjadikan para pembelajar menulis   untuk huruf   atau sebaliknya.  Kesalahan  tersebut  merupakan  akibat langsung  dari  kesalahan  dalam  mendengarkan  huruf  yang didiktekan.
2. Menulis hamzah Washal dengan hamzah Qatha. Kesalahan ini  diakibatkan  oleh  karena  mereka  tidak  mengetahui kedua hamzah tersebut dan penempatannya.
3.  Melalaikan  penempatan  hamzah  Qatha.  Kesalahan  ini muncul  karena  kemalasan  atau  ketidak  tahuan  mereka akan  pentingnya  penempatan  hamzah.  Mungkin  juga mereka  mempunyai  anggapan  yang  salah  bahwa  hamzah Washal tidak membutuhkan tanda hamzah.
4. Kesalahan dalam penulisan hamzah Qatha di tengah atau di  akhir.  Kesalahan  ini  timbul  karena  mereka  tidak mengetahui aturan penulisan hamzah Mutawassithah serta aturan penulisan hamzah Mutatharrifah atau mereka salah dalam menerapkan qaidah.
5. Pembelajar kadang-kadang menulis alif Mamdudah dengan alif Maqshurah atau sebaliknya.
6.  Pembelajar  kadang-kadang  menulis  ta  Marbuthah  dengan ta Mabsuthah atau sebaliknya.
7.  Kesalahan  dalam  membuang  lam  sebelum  huruf-huruf syamsiyyah.  Lam  tersebut  tidak  diucapkan  akan  tetapi menempati  bunyi  huruf  berikutnya.  Karena  para pembelajar  tidak  mendengar  lam  ini  sehingga  mereka tidak  menulisnya.  Sedangkan  yang  betul  adalah  mereka harus  menulisnya  sebelum  huruf  yang  diidghaminya seperti pada kata :  .
8.  Pembelajar  kadang-kadang  tidak  membuang  alif  (ا )  pada tempat  yang  mengharuskannya,  seperti  pada  kata  معاوية بن أبي سفيان
9.  Pembelajar  kadang-kadang  tidak  membuang  alif  yang diucapkan; akan tetapi tidak ditulis  seperti pada kata “ الرجمن، لكن “.
10. Pembelajar  kadang-kadang  tidak  membuang  ( ال)  pada tempat-tempat  yang  mengharuskannya  untuk  dibuang,
11.  Pembelajar  kadang-kadang  salah  dalam  menulis  huruf Idgham.  Mereka  kadang-kadang   menulisnya  dengan  dua huruf.
12.  Pembelajar  kadang-kadang  salah  dalam  menulis  sebuah kata dengan dua kata yang terpisah, seperti : عما،لما
13.  Pembelajar  kadang-kadang  tidak  menulis  sebuah  huruf yang  tidak  diucapkan  akan  tetapi  ada  dalam  tulisan, seperti pada kata:  ذهبوا، عمرو
14.  Pembelajar  kadang-kadang  menulis  tanwin  dengan  huruf nun  pada  akhir  kata.  Hal  ini  terjadi  karena  dipengaruhi oleh apa yang didengarnya.
15. Pembelajar  kadang-kadang  tidak  menulis  huruf  alif  pada kata yang berakhir dengan tanwin nashb, seperti : زاهدا، مديرا.
16.  Pembelajar  kadang-kadang  membubuhkan  alif  pada tanwin  nashb,  padahal  pada  kata-kata  tersebut  mesti dibuang. Contoh: دعاء، مدرسة .
17. Pembelajar  kadang-kadang  menyambungkan  dua  kata yang seharusnya berpisah atau sebaliknya, seperti :  كلما، فيم، ربما.
            Kesulitan-kesulitan  tersebut  sebaiknya  tidak dikemukakan  kepada  para  pemula  sejak  dini.  sebaiknya  kita menjauhkan  kesulitan-kesulitan  dikte  tersebut  dari  para pemula.  Mereka  tidak  bisa  menghindar  dari  kesulitan membedakan diantara bunyi-bunyi bahasa dalam Imla. Untuk itu  para  pembelajar  diusahakan  bisa  membedakan  antara huruf    dan  .  Kegagalan  dalam  membedakan  keduanya dapat  menimbulkan  kesulitan-kesulitan  dalam  menyimak, mengucapkan,  menulis,  dan  memahami  pada  batas-batas tertentu.
Kesalahan-kesalahan dalam dikte terjadi dikarenakan beberapa  sebab.  Untuk  itu  sebaiknya  dilakukan  hal-hal berikut ini:
1. Hendaklah guru terlebih dahulu memiliki konsep yang jelas tentang  berbagai  macam  kesalahan  dikte  yang  dialami oleh para pembelajar.
2. Guru  tidak  boleh  merasa  kaget  dengan  kesalahan-kesalahan  tersebut,  karena  para  pembelajar  di  negara-negara  Arab  pun  mengalami  kesalahan-kesalahan tersebut.
3. Guru mesti  siap-siap untuk menjaga  para pembelajar  dari kesalahan-kesalahan  tersebut  serta  langsung memperbaikinya ketika mereka terjerumus.
4.  Guru  hendaklah  mengetahui  aturan-aturan  yang  berlaku dalam    pendiktean  bahasa  Arab  serta  menyampaikan pengetahuan tersebut kepada para pembelajar.

D.     Solusi dari kesalahan dalam menulis
Beberapa solusi untuk memperbaiki tulisan dan terampil dalam menulis yaitu:
1.     Pelatihan Sebelum Menulis Huruf
                        Pada  tahap  ini  pembelajar  dilatih  cara  memegang pena  dan  meletakkan  buku  di  depannya.  Demikian  juga mereka harus  belajar  memantapkan  cara  menggaris,  seperti kemiringannya,  cara  memulainya,  dan  cara  mengakhirinya. Hal  ini  penting  sebagai  persiapan  sebelum  mereka  belajar menulis  kata-kata  pada  tahap  berikutnya.  Garis-garis  pada tahap ini kadang-kadang lurus atau bengkok. Garis-garis yang lurus  bisa  miring,  mendatar  atau  vertikal.  Sedangkan  garis-garis  yang  bengkok  mempunyai  tingkat  kebengkokan  yang berbeda.
2.      Penulisan Huruf
Setelah  para  pembelajar  berlatih  membuat  garis-garis, mulailah mereka belajar menulis huruf-huruf. Pada tahap ini sebaiknya kita mengikuti langkah-langkah berikut ini:
1. Mulai dengan berlatih menulis huruf-huruf secara terpisah sebelum mereka berlatih menulis huruf sambung;
2.  Tulislah  huruf-huruf  tersebut  secara  tertib  sesuai  dengan urutan dalam abjad;
3. Tulislah huruf-huruf sebelum menulis suku kata atau kata;
4. Tulislah satu atau dua huruf baru pada setiap pelajaran;
5.  Guru  memulai  menulis  contoh  tulisan,  kemudian  para pembelajar mulai menulis pada buku tulis mereka. Ketika  guru  mengajarkan  menulis  huruf  hendaklah diperhatikan hal-hal berikut ini:
1)  Guru  membimbing  para  pembelajar  cara  memegang  pena yang betul serta mengawasi mereka agar terbiasa menulis dengan  betul  atau  benar.  Tidak  adanya  pengawasan  dari guru  kadang-kadang  dapat  menimbulkan  kebiasaan-kebiasaan menulis yang aneh.
2) Guru membimbing para pembelajar cara duduk yang betul ketika  menulis,  punggung  tidak  terlalu  membungkuk  dantidak  terlalu  tegak,  sedangkan  buku  terletak  di  depan sebelah kanan agak sedikit miring.
3)  Ketika  guru  menulis  sebuah  contoh  tulisan,  dia  juga memberikan  pengarahan  dan  peringatan  akan  pentingnya memelihara  keserasian  diantara  huruf-huruf.  Dan  kalau mungkin  hal  itu  dilakukan  dengan  cara  memaksa  para pembelajar  agar  mereka  menulis  pada  buku  bergaris. Tulisan  tersebut  mempunyai  beberapa  baris  yang  terdiri dari berbagai huruf yang berbeda.
4)  Guru  memperingatkan  para  pembelajar  akan  pentingnya kesatuan jarak antar huruf yang terpisah pada suatu kata. Dan  menjadikan  jarak  tersebut  lebih  pendek  dari  jarak antar kata pada satu kalimat.
5)  Guru  memperingatkan  para  pembelajar  akan  pentingnya kesatuan  jarak  antar  kata  pada  satu  kalimat,  serta membedakannya  dari  jarak  antar  huruf-huruf  pada  suatu kata dengan cara menjadikannya lebih panjang.
6)  Guru  memperingatkan  para  pembelajar  akan  pentingnya menulis  dengan  lurus,  horizontal,  dan  seimbang.  Tulisan itu mesti lurus, horizontal, dan seimbang antar satu baris dengan baris lainnya.
7)  Tulisan  para  pembelajar  pemula  sebaiknya  menggunakan pensil,  tidak  menggunakan  pena.  Dengan  pensil  mereka bisa  mengganti  kesalahan-kesalahan  mereka  yang  pada umumnya banyak terjadi pada para pemula.
8)  Apabila  menulis  itu  dilakukan  pada  kertas  khusus  yang terdapat  contoh-contoh  tulisan  pada  setiap  baris  bagian atasnya,  maka  hendaklah  para  pembelajar  memulai tulisannya  dari  kertas  paling  bawah,  sehingga  mereka selalu  menghadap  contoh  tulisan  dan  mereka  menirunya. Sedangkan  apabila  mereka  memulai  menulis  dari  kertas bagian atas mereka akan meniru contoh tulisan itu hanya pada  baris  pertama,  dan  seterusnya  mereka  akan  meniru baris terakhir dari tulisannya. Sehingga tulisan pada  baris terakhir  dari  halaman  tersebut  akan  menjadi  tulisan paling jelek dari seluruh halaman. 
3.     Naskh (Menyalin)
Setelah  para  pembelajar  selesai  berlatih  menulis huruf,  baik  yang  bersambung  maupun  yang  terpisah, sebaiknya  mereka  diminta  untuk  menyalin  pelajaran membaca  yang  mereka  pelajari  (buku  pelajaran  yang menjadi  pegangan).  Walaupun  mungkin  menyalin  bukan merupakan  materi  yang  aneh  bagi  mereka  yang  khusus mendalami bidang tulis indah, akan tetapi bagaimanapun hal tersebut mempunyai beberapa manfaat, yaitu:
1)  Menyalin  merupakan  latihan  tambahan  bagi  para pembelajar  dalam  menulis  huruf-huruf  dengan  tangan. Apabila  seorang  guru  mendorong  para  pembelajar  untuk menyalin,  maka  sebenarnya  menyalin  merupakan  latihan untuk menulis indah.
2) Menyalin dapat menumbuhkan keterampilan menggunakan ejaan yang benar.
3)  Menyalin  dapat  melatih  para  pembelajar  menggunakan tanda baca, seperti titik, koma, tanda tanya, tanda seru, tanda kutip, dan tanda-tanda baca lainnya.
4)  Menyalin  dapat  memantapkan  penguasaan  materi pelajaran  yang  telah  dipelajarinya  berupa  kosa  kata  dan pola-pola kalimat.  Selain  itu  pula  ada  beberapa  hal  yang  perlu diperhatikan  oleh  guru  berkaitan  dengan  latihan  menyalin ini. Hal-hal tersebut adalah:
a. Tugas  menyalin  tidak  boleh  memberatkan  para pembelajar.  Tugas  yang  memberatkan  dapat  menjadikan mereka membenci pelajaran dan gurunya.
b.  Guru  memberikan  tugas  menyalin  dengan  materi  bacaan yang sudah dikenal di kalangan mereka.
c.  Guru  hendaklah  memeriksa  latihan  mereka  dengan memperhatikan  ketepatan  waktu  dan  penggunaan metode.  Apabila  kedua  hal  tersebut  tidak  diperhatikan dapat  mengakibatkan  para  pembelajar  melalaikan  tugas atau mereka mengerjakannya dengan cara yang salah.
4. Imla’ (dikte)
Kegiatan  Dikte  dapat  terlaksana  secara  sempurna dengan mengikuti langkah-langkah berikut ini :
1. Guru menentukan  materi bacaan yang  sudah dikenal  para pembelajar  agar  mereka  mempersiapkan  diri  terlebih dahulu  di  rumah.  Dari  materi  itulah  guru  mengambil bahan  untuk waktu berikutnya.
2.  Guru  mendiktekan  materi  bacaan,  baik  seluruhnya, sebagian,  maupun  memilih  sebagian  kalimat  atau  kata. Ketika  mendiktekan  bacaannya  guru  membacakannyadengan  perlahan  sebanyak  tiga  kali.  Guru  juga  harus membacanya dengan teliti. Para pembelajar akan menulis apa  yang  mereka  dengar,  dan  mereka  mendengar  apa yang diucapkan oleh gurunya.
3.  Setelah  dikte  selesai,  mulailah  guru  mengadakan  koreksi. Waktu  di  antara  kegiatan  dikte dan  koreksi  tidak  mesti panjang,  karena  reinforcement  (pengukuhan)  harus segera dan cepat.
4.  Guru  atau  pembelajar  menulis  jawaban-jawaban  yang benar di papan tulis atau melihat kembali buku pegangan.
5. Setiap pembelajar mengoreksi tulisan masing-masing, atau mereka  saling  menukarkan  buku  dengan  sesama  mereka dan  mengoreksinya.  Koreksi  oleh  masing-masing  jauh lebih baik, lebih cepat, dan lebih ringan daripada dengan saling  tukar-menukar  buku.  Koreksi  oleh  masing-masing dapat  menghemat  waktu  dan  energi  guru.  Untuk  para pembelajar pemula  semua tugas  sebaiknya dikoreksi  oleh guru.
6. Guru dan para pembelajar membahas kesalahan-kesalahan yang terjadi pada latihan dikte.
7. Guru meminta para pembelajar mengulangi kembali setiap tulisan  mereka  yang  salah  sebanyak  tiga,  empat,  atau lima  kali.  Sebaiknya  guru  dan  pembelajar  sepakat  untuk memelihara  jumlah  tertentu  yang  tetap  untuk  setiap perbaikan.  Latihan  dikte  sebaliknya  dilakukan  dengan  persiapan, dikte, koreksi, diskusi, menulis kembali .



[1] Mulyanto Sumardi dan Kafrawi. Pedoman Pengajaran Bahasa Arab padan Perguruan Tinggi Agama Islam IAIN.(Jakarta,1976), h.79





DAFTAR PUSTAKA
Abdul  Aziz Ibrahim Al-Ashili. 1423 H. Asasiyatu ta’alim al-lughah al-‘arab linnathiqin billughati al-ukhra. Makah al-Mukarramah.
Mulyanto Sumardi dan Kafrawi. 1976. Pedoman Pengajaran Bahasa Arab pada Perguruan Tinggi Agama Islam IAIN. Jakarta: Proyek Pengembangan Sistim Pendidikan Agama Departemen Agama R.I.
Nurbayan, Yayan. 2008. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: Zein Al-Bayan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar